Pages

Senin, 28 Maret 2011

Wajah [Perempuan] Malam

Malam meremang menjemput pagi

Bulan menyabit awan bagai rerumputan

Mesin-mesin lelah mendaras rutinitas

Dingin menyekap tubuh-tubuh setengah telanjang

Beralaskan tikar di atas trotoar dan emperan

Yang bersembunyi di balik selimut-selimut kumal

Meringkuk merapat ke dinding-dinding bangunan



Di satu bilik vila megah

Lentera memanggang laron-laron sesat

Si sundal membuang sandalnya lalu bergoyang sambal

Belasan, puluhan kertas-kertas berwarna kesumba

Berhamburan setelah membentur selakangnya

Lama ia mengerang dusta

Lalu ia jumputi tiap kertas-kertas kesumba yang terserak

tak peduli hasil jadah pezinah negara

ia selipkan kertas-kertas kesumba

diantara dada-dada pepayanya

agar dapat memeram bara duka di dalamnya



rumah tempat ia kembali mengelus buah hati

membagi kertas-kertas kesumba menjadi tiga

pertama untuk menyumbat perut keluarga

kedua untuk mereka yang lebih merana

ketiga bekal menghadap ke rumah-Nya



kembali air mata menyusup lembah pipi

ia langitkan pengakuan dosa dan doa

ia tanggalkan segala busana ruh dan badan

ia telanjang bulat di hadapan Tuhan.





27032011/22041432:1800

Balada Bangun Tidur


pagi buta seorang janda menanak keringat jadi nasi

menumbuk tulang hingga kram

demi tole semata wayang

buah cintanya dengan suami mendiang



tole bangun lee...

srengenge akan menyeringai

jika melihatmu masih memeluk bantal seperti sundal

bergegaslah meraup muka dan sembahyang

tuhan menantimu tersungkur bersyukur



tole, pergilah mengeja kalam

agar kau paham sasmita semesta alam

menyusu penthil-penthil tuhan

agar tercerap olehmu saripati kehidupan



siang menggarang hingga senja menjemput malam

oh si janda masih saja menanak keringat jadi nasi

menumbuk tulang hingga kram

demi anak lanang semata wayang



ia tolak pinangan setiap laki-laki

kilahnya bahteraku masih kuat berlayar hingga ke tepi

cintanya pada suami sehidup semati



Tole bangun lee...

srengenge akan menyeringai

jika melihatmu masih memeluk bantal seperti sundal

bergegaslah meraup muka dan sembahyang

tuhan menantimu tersungkur bersyukur



tole, pergilah menjemput rizki

otot-ototmu telah membesar

otakmu telah penuh pengetahuan

tole, kau sudah bujang

saatnya mencari sangu mengayuh kehidupan



rambut si janda telah menguban

ayu jelitanya sudah memudar

masih saja ia menanak keringat jadi nasi

menumbuk tulang hingga kram

demi anak lanang semata wayang



tole bangun lee...

srengenge akan menyeringai

jika melihatmu masih memeluk bantal seperti sundal

bergegaslah meraup muka dan sembahyang

tuhan menantimu tersungkur bersyukur



tole, usia emakmu sudah senja

sudah lelah menghirup nafas

kasihan bapakmu menunggu sampai pulas

kini gilaranmu bangunkan anakmu

setiap pagi sebelum srengenge menyeringai

sebelum hayat lepas dari badan



tole bangunlah lee..

srengenge telah benar-benar menyeringai

bumi lama telah musnah

kini berganti bumi yang bertanah perak

memanggang kaki-kaki yang berpijak

bangunlah mari meneduh bersama di padang mahsyar

tuhan menanti kita tersungkur bersyukur



25032011/20041432:1505

Senin, 07 Februari 2011

Tafsir Surat Al-Mursalat (ayat 46-50)

كُلُواْ وَتَمَتّعُواْ قَلِيلاً إِنّكُمْ مّجْرِمُونَ * وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لّلْمُكَذّبِينَ * وَإذَا قِيلَ لَهُمُ ارْكَعُواْ لاَ يَرْكَعُونَ * وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لّلْمُكَذّبِينَ * فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ *

46. (Dikatakan kepada orang-orang kafir): "Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek; sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa."
47. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.
48. Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Rukuklah, niscaya mereka tidak mau ruku'
49. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.
50. Maka kepada perkataan apakah sesudah Al Quran ini mereka akan beriman?

(كُلُواْ وَتَمَتّعُواْ قَلِيلاً إِنّكُمْ مّجْرِمُونَ)
Makan dan bersenang-senanglah, tapi sedikit saja. Menurut Zamakhsyari dalam ayat ini Allah bermaksud menghina para pendusta itu. Amr (perintah) dalam ayat ini bukan berfaedah tahdid (menggertak). Perintah ini lebih cocok berfaedah tahsiir dan takhsiir (celaan, ejekan/ penghinaan). Karena perintah tersebut jatuh setelah Allah memamerkan keadaan orang-orang muttaqiin yang berlimpah nikmat. Karena mereka merasa terhina tak satupun dari para pendusta itu yang melaksanakan perintah tersebut.
Bisa juga kalimat ayat ini menjadi kalam isti’naf (kalimat baru) yang terpisah dari khithob (tujuan pembicaraan/ kata ganti orang kedua) sebelumnya. Menurut yang menganut madzhab ini seperti Abu Hayyan dan Jalauddin al-Mahalli, khitob kallimat ditujukan kepada para pendusta di dunia. Jika demikian maka faedah amr dalam ayat ini boleh sebagai tahdid (gertakan) untuk para pendusta di alam dunia. Jika pada pendapat yang pertama tidak berlaku faedah tahdid adalah karena khitob-nya kepada para pendusta di akhirat dimana faedah tahdid ini tidak cocok untuk susunan dan tujuan kalimatnya. Makan dan bersenang-senanglah sebentar saja di dunia, setelah itu rasakanlah adzab yang pedih selama-lamanya di akhirat. Maka kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

(وَإذَا قِيلَ لَهُمُ ارْكَعُواْ لاَ يَرْكَعُونَ)
Ketika mereka diperintah untuk ruku’, tunduk, merendahkan diri di hadapan Allah ‘azza wa jalla --dengan menerima kebenaran wahyu-Nya, mengikuti agama-Nya, dan meninggalkan kesombongan dan kecongkakan-- mereka tak mau. Mereka bersikukuh untuk tetap sombong dan congkak.
Wahbah Zuhaili menerangkan dalam tafsirnya bahwa dalam ilmu balaghah, ayat ini termasuk majaz mursal. Yang disebutkan secara sharih (jelas) rukuk tapi yang dimaksud adalah shalat. Ayat ini termasuk contoh dari ithlaqi al-juz wa iradati al-kull (menyebutkan suatu bagian dari apa yang sebenarnya dimaksudkan).
Muqatil mengatakan ayat ini turun berkenaan dengan kaum Tsaqif. Mereka berkata kepada Rasulullah SAW “kami meninggalkan shalat, kami tidak (mau) jungkir balik --jengkang-jengking- bhs jawa-- (rukuk sujud - sujud rukuk), karena itu hanya menjadi bahan umpatan dan olok-olok bagi kami.” Maka Rasul bersabda “tidak ada kebaikan dalam (menjalankan) agama yang di dalamnya tidak ada rukuk dan sujud. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Daud dan Thabrani.
Menurut Ibnu Abbas sebagaimana yang dikutip al-Alusi dalam tafsir al-Munir, perintah itu ditujukan pula pada para pendusta di hari kiamat. Amr-nya berfaedah lil wujuub (keharusan). Mereka disuruh harus rukuk dan sujud, namun mereka tak mampu karena sebelumnya mereka tak pernah melakukan sujud dan rukuk sewaktu di dunia. Maka kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Mendustakan dan tak mau tunduk ketika diperintahkan untuk tunduk.

(فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ)
Para mufassir sepakat bahwa maksud lafadz “حَدِيثٍ” disini adalah al-qur’an. Penggunaan lafadz ba’da (setelah), menurut al-Alusi menunjukkan keterpautan tingkatan al-qur’an atas kitab-kitab lainnya. Tidak ada perkataan atau berita yang lebih berhak dipercayai mengalahkan al-qur’an. Kata yu’minun (beriman/ percaya) juga ditafsiri yushaddiquun (membenarkan). Surat ini ditutup dengan ayat yang mengungkapkan ekspresi keheranan atas para pendusta itu. Bisa-bisanya mereka tak mempercayai (membenarkan) al-qur’an yang benar-benar telah terbukti kebenaran hujjah-nya. Kalau tidak kepada al-qur’an kepada perkataan (berita) apa lagi sesudahnya yang akan mereka percayai dan benarkan?

Tafsir ijmali
Pada kelompok terakhir dari rangkaian ayat-ayat dalam surat al-mursalat ini Allah seakan-akan membiarkan para pendusta sejenak bersenang-senang sebentar di alam dunia. Namun setelah itu Dia akan menyiksa mereka selama-lamanya di akhirat. Karena ketika diperintahkan untuk tunduk dengan menerima kebenaran wahyu, mereka enggan dan sombong. Maka kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Kemudian surat ini ditutup dengan ayat yang mengekspresikan keheranan atas pendustaan mereka terhadap (berita-berita) al-qur’an yang sudah terbukti kebenarannya. Lalu kepada perkataan (berita) apalagi setelah al-qur’an yang akan mereka percayai?

WaLlahu a’lam…

Tafsir Surat Al-Mursalat (ayat 41-45)

إِنّ الْمُتّقِينَ فِي ظِلاَلٍ وَعُيُونٍ * وَفَوَاكِهَ مِمّا يَشْتَهُونَ * كُلُواْ وَاشْرَبُواْ هَنِيـَئاً بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ * إِنّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ * وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لّلْمُكَذّبِينَ *

41. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air.
42. Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini.
43. (Dikatakan kepada mereka): "Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan."
44. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
45. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.


(إِنّ الْمُتّقِينَ فِي ظِلاَلٍ وَعُيُونٍ)
Al-Alusi memasukkan orang-orang mu’min yang maksiat ke dalam golongan muttaqin. Alasannya karena posisi ayat ini dimaksudkan sebagai perbandingan terhadap orang-orang yang mendustakan. Lafadz “ظِلاَلٍ” (naungan/ bayangan) digunakan untuk menyebut tempat dimana sinar matahari tak bisa sampai kepadanya. Maka maknanya lebih umum daripada “الفيء” (gelap) yang hanya digunakan untuk menyebut tempat dimana matahari tak terlihat. Menurut al-Tsa’labi dan Jalaluddin al-Mahalli, penggunaan kata zhilaal adalah untuk menggambarkan betapa lebatnya pepohonan-pepohonan yang menaungi orang-orang yang bertakwa sehingga mereka terhindar dari panas.
(إِنّ الْمُتّقِينَ فِي ظِلاَلٍ وَعُيُونٍ * وَفَوَاكِهَ مِمّا يَشْتَهُونَ *) susunan ayat-ayat tersebut dalam ilmu balaghah disebut saja’ murasha’, yakni kesesuaian bunyi akhir dari dua atau lebih kalimat yang terpisah. Kata “يَشْتَهُونَ” menunjukkan bahwa disana orang yang bertakwa mendapatkan apa saja yang mereka inginkan, tidak seperti kenikmatan di dunia yang hanya bisa diperoleh dari apa yang biasa ditemukan.

(كُلُواْ وَاشْرَبُواْ هَنِيـَئاً بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ)
Mereka dipersilahkan makan dari pepohonan dan buah-buahan, juga minum dari mata air yang mengalir di sekitar pepohonan tersebut. Kenikmatan ini adalah balasan atas keimanan dan amal-amal shalih lainnya yang mereka kerjakan sewaktu di dunia.

(إِنّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ)
Penggunaan kata muhsinin bermaksud untuk memuji orang-orang yang bertakwa (muttaqiin) atas kebaikan mereka. Seperti itulah Allah akan membalas amal perbuatan orang-orang-orang yang bertakwa. Allah tak akan menyia-nyiakan amal perbuatan mereka.

Ibnu “Arabi juga memberi tafsir sufistik atas keompok ayat ini sebagai pembanding terhadap rangkaian ayat sebelumnya. Dia menuturkan “sesungguhnya orang muttaqiin --mereka yang bersih (membersihkan diri) dari sifat-sifat nafsu dan segala bentuk konsekuensi amal (pahala-dosa, pen.), mereka yang terlepas dan terbebas dari semua itu-- berada di dalam naungan sifat-sifat ilahiyah. Mereka juga berada pada sumber pengetahuan (‘ulum), kemakrifatan (ma’arif), hikmah (hikam), dan hakikat (haqa’iq). Semua itu mereka dapatkan dari hasil tajalli (pengejawantahan) sifat-sifat Tuhan dalam diri mereka. Maka disediakan bagi mereka juga buah-buah mahabbah (percintaan) dan mudrikaat (ekstase dalam pengalaman spiritual) berdasarkan keinginan dan kehendak mereka kapanpun mereka mau. Mereka dipersilahkan menyantap buah-buah itu dan mereguk semua mata air (sumber) tersebut. Santap dan reguklah dengan senikmat-nikmatnya sebagai balasan atas amal-amal suci dan riyadhah kalbu yang kalian lakukan. Seperti itulah Allah membalas muhsinin (orang-orang yang berihsan) yang menyembah Allah dalam maqam musyahadah (penyaksian) terhadap sifat-sifat dan dzat-Nya. (mengingat (sabda Nabi) ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan kau melihat/ menyaksikan-Nya).”

Tafsir ijmali
Dalam ayat ini Allah memamerkan keadaan orang-orang bertakwa di hari kiamat. Mereka terhindar dari panasnya api neraka dan disediakan makanan dan minuman apapun yang mereka inginkan. Kenikmatan-kenikmatan tersebut adalah balasan dari Allah atas amal-amal shalih mereka ketika di dunia. Dengan demikian semakin tersiksalah batin dan mental kaum kafir melihat perlakuan Allah terhadap mereka. Maka kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Mendustakan apa yang telah Allah kabarkan ini.

Tafsir Al-Mursalat (ayat 35-40)

هَـَذَا يَوْمُ لاَ يَنطِقُونَ * وَلاَ يُؤْذَنُ لَهُمْ فَيَعْتَذِرُونَ * وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لّلْمُكَذّبِينَ * هَـَذَا يَوْمُ الْفَصْلِ جَمَعْنَاكُمْ وَالأوّلِينَ * فَإِن كَانَ لَكمُ كَيْدٌ فَكِيدُونِ * وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لّلْمُكَذّبِينَ *


35. Ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu),
36. dan tidak diizinkan kepada mereka minta uzur sehingga mereka (dapat) minta uzur.
37. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.
38. Ini adalah hari keputusan; (pada hari ini) Kami mengumpulkan kamu dan orang-orang terdahulu.
39. Jika kamu mempunyai tipu daya, maka lakukanlah tipu dayamu itu terhadap-Ku.
40. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.


(هَـَذَا يَوْمُ لاَ يَنطِقُونَ)
Pada hari itu mereka tidak bisa berbicara apapun. Mereka terdiam melihat dahsyatnya hari kiamat. Dengan menarik Al-Thabari mengajukan pertanyaan dengan menghadapkan ayat lain dari al-qur’an yang seolah paradoks dengan ayat ini, “lalu bagaimana dengan ayat al-qur’an yang menerangkan bahwa penghuni neraka berkata (رَبّنا أخْرِجْنا مِنْها) “Tuhan keluarkanlah kami darinya (neraka)” dan ucapan mereka (رَبّنا أَمَتّنا اثْنَتَينِ وأحْيَيْتَنا اثْنَتَين) “Tuhan matikanlah kami dua kali dan hidupkan kami dua kali”? Maka jawabnya adalah bahwa mereka tidak bisa berbicara hanya pada saat-saat tertentu saja, tidak selama-lamanya. Bisa juga dimaknai Allah menjadikan pembicaraan mereka itu sama seperti mereka tak berbicara. Karena pembicaraan mereka tak lagi didengar dan bermanfaat sebagaimana dituturkan oleh Zamakhsyari dan al-Alusi.

(وَلاَ يُؤْذَنُ لَهُمْ فَيَعْتَذِرُونَ)
Mengenai lafadz “وَلاَ يُؤْذَنُ” (mereka tak diizinkan), al-Alusi mengutip dua pendapat. Pertama, mereka tak diizinkan berkata-kata sama sekali. Kedua, mereka tak diizinkan beralasan (mengajukan ‘udzur). Sedangkan pada lafadz (فَيَعْتَذِرُونَ) para ulama sepakat menjadikannya ‘athaf dari lafadz (وَلاَ يُؤْذَنُ). Maka maknannya menjadi mereka tidak diizinkan (berbicara/ beralasan/udzur) dan mereka tak dapat untuk mengajukan alasan atas dosa-dosa yang mereka lakukan. Bahkan para ulama melarang membacanya nashab sebagai tarkib jawab. Hal ini bermaksud agar kalam itu berfaidah tidak adanya pengajuan udzur/ alasan secara mutlak. Artinya mereka memang tidak punya alasan atas dosa-dosa mereka dan (sehingga) mereka tak dapat mengajukan alasan. Hal ini juga untuk menghindari anggapan bahwa mereka tidak mengajukan udzur/ alasan adalah karena tidak adanya izin kepada mereka. Sehingga tidak ada asumsi bahwa mereka sebenarnya punya udzur atas dosa-dosa mereka, tetapi karena tidak diizinkan mereka tidak dapat mengajukan udzurnya tersebut.

(هَـَذَا يَوْمُ الْفَصْلِ جَمَعْنَاكُمْ وَالأوّلِينَ)
Hari ini adalah hari pemisahan. Pemisahan antara orang-orang yang beruntung dan orang-orang yang celaka. Ada pula yang mengatakan pemisahan antara para Nabi dan umatnya. Allah mengumpulkan manusia menjadi satu dari umat yang terdahulu sampai umat akhir zaman dalam padang mahsyar.

(فَإِن كَانَ لَكمُ كَيْدٌ فَكِيدُونِ)
Dalam ayat ini Allah menantang orang-orang kafir. Mengingat berita tentang hari kiamat yang mereka dustakan sudah mereka dengar sejak di dunia, maka apabila mereka mempunyai tipu daya yang telah mereka persiapkan agar selamat dari siksaan pada hari ini lakukanlah sekarang juga. Ayat tersebut juga dapat berfaedah taqri’ (gertakan), tahqir (ejekan), takhjiil ( ), ta’jiiz (menunjukkan kelemahan dan ketidak berdayaan), taubikh (mempertanyakan kembali kesombongan mereka ketika di dunia).

Tafsir ijmali
Kelompok ayat ini menggambarkan keadaan orang-orang kafir pada saat mereka melihat dan menghadapi siksaan pada hari kiamat. Mereka terdiam tak bisa berkata sama sekali akibat dahsyatnya keadaan hari kiamat dan siksaan yang akan mereka terima. Mereka tak bisa beralasan lagi atas dosa-dosa yang mereka perbuat. Pada hari itu juga Allah mengumpulkan semua umat manusia dari zaman terdahulu sampai umat akhir zaman. Mereka dipisahklan berdasarkan yang beruntung dan celaka. Kemudian Allah menantang orang kafir untuk melaksanakan tipu daya bila mereka sudah punya tipu daya agar selamat dari siksaan tersebut. Maka kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Mendustakan berita ini.

Tafsir Surat Al-Mursalat (ayat 29-34)

انطَلِقُوَاْ إِلَىَ مَا كُنتُمْ بِهِ تُكَذّبُونَ * انطَلِقُوَاْ إِلَىَ ظِلّ ذِي ثَلاَثِ شُعَبٍ * لاّ ظَلِيلٍ وَلاَ يُغْنِي مِنَ اللّهَبِ * إِنّهَا تَرْمِي بِشَرَرٍ كَالْقَصْرِ * كَأَنّهُ جِمَالَةٌ صُفْرٌ * وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لّلْمُكَذّبِينَ *

29. (Dikatakan kepada mereka pada hari kiamat): "Pergilah kamu mendapatkan azab yang dahulunya kamu mendustakannya.
30. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang.
31. yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka."
32. Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana.
33. Seolah-olah ia iringan unta yang kuning
34. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Tafsir lughawi
Jumhur ulama sepakat bahwa lafadz (انطَلِقُوَاْ) yang kedua berfaedah untuk mengulang (takrir‏) perintah yang pertama. Namun Rawis meriwayatkan dari Ya’kub, lafadz (انطَلقُوَاْ) yang kedua, lamnya dibaca fathah menjadi fi’l madhi sebagaimana dikutip al-Mawardi. Zamkhsyari menyimpulkkan jika lafadz tersebut berupa fi’l madhi maka ayat tersebut berarti mengabarkan perbuatan mereka setelah diperintah untuk pergi kepada adzab yang dahulu mereka dustakan.
“ظِلّ ذِي ثَلاَثِ شُعَبٍ” (naungan yang bercabang tiga). Jalaludin al-Mahalli menafsirkan naungan (ظِلّ) sebagai asap yang bercabang tiga disebabkan saking besarnya asap itu. Al-Alusi menyebutkan cabang-cabang dari asap tersebut mengepung orang kafir, satu diatas mereka, yang lain di kanan dan kiri mereka. Ia melanjutkan, asap tersebut bercabang tiga karena mereka mendustakan tiga hal. Pendustaaan yang secara jelas dimaksudkan dalam ayat itu adalah mendustakan adzab, yang sebenarnya mengandung pendustaan pula kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Ada penafsiran sufistik yang menarik mengenai naungan/bayangan (ظِلّ ) ini. Sebagaimana yang diterangkan Ibnu ‘Arabi dalam tafsirnya, (ظِلّ) dalam ayat ini berarti bayangan/ naungan dari pohon zaqqum. Ia adalah nafsu tercela dan terlaknat yang ada dalam diri manusia. Jika nafs (hati) ini telah terhijab oleh sifat-sifatnya (zaqquum) dan terputus dari nur al-wahdah (nur tauhid/ penyatuan) sebab gelapnya entitas zaqqum, maka tercemarlah manusia oleh kotoran yang tumbuh dan berkembang dalam neraka karakter (tabiat)-nya. Neraka tabiat yang mempunyai tiga cabang hawa nafsu, bahimiyah (kebinatangan), sabu’iyyah (keliaran/ kebuasan), dan syaithaniyyah (nafsu syetan).
Penggunaan kata (ظِلّ) juga menunjukkan bahwa mereka mengira bahwa bayang-bayang tersebut akan meneduhkan dan menyelamatkan mereka dari panasnya neraka. Namun kenyataannya tidak seperti yang mereka inginkan. Karena ternyata bayang-bayang itu adalah asap neraka yang maha panas. Alih-alih melindungi dan menduhkan, asap tersebut justru semakin menyiksa mereka sebagaimana digambarkan pada ayat selanjutnya.
(اللّهَبِ) adalah bagian dari api yang keatas ketika api sedang berkobar (lidah api). Ia bisa berwarna merah, kuning atau hijau.
(بِشَرَرٍ) adalah apa yang terbang (memercik) dan terpisah dari api (percikan api). Dalam ilmu balaghah kalimat (بِشَرَرٍ كَالْقَصْرِ) termasuk tasybih mursal mujmal karena nilai kesamaan dari dua benda tidak disebutkan. Dalam ayat tersebut langsung menyebutkan bahwa percikan api neraka diumpamakan seperti istana atau gedung. Nilai kesamaannya adalah dalam hal besar dan tingginya. Percikan api yang besar seringkali disebut bunga api.
(جِمَالَةٌ صُفْرٌ) banyak ulama sepakat bahwa lafadz (جِمَالَةٌ) adalah bentuk jama’ dari (جمَلَ). Wahbah Zuhaili mengatakan boleh juga dibaca (جمالات) bentuk jama’nya dari (جِمَالَةٌ), maka ia menjadi jam’ul jama’. Al-Mawardi dalam tafsirnya menyebutkan dua alasan kenapa dinamakan (جمالات). Pertama karena kecepatan percikan api tersebut. Kedua karena percikan api itu selalu disusul dengan percikan api berikutnya, dan seterusnya begitu. Kalimat (كَأَنّهُ جِمَالَةٌ صُفْرٌ) termasuk tasybih mursal mufashol. Bunga api tadi diserupakan seperti iringan unta kuning. Nilai kesamaan antara keduanya adalah terletak pada besarnya, tingginya dan warnanya.

Tafsir ijmali
Setelah menyebutkan nikmat-nikmat-Nya dan hujjah yang Dia ajukan untuk menggugat kaum kafir, Allah memerintahkan mereka untuk merasakan adzab yang dahulu mereka dustakan. Mereka digiring menuju sebuah naungan bercabang tiga yang mereka kira dapat meneduhkan dan melindungi mereka dari panas api neraka. Namun ternyata naungan tersebut adalah asap api neraka yang mengepung mereka sehingga membuat mereka semakin tersiksa. Maka kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Mendustakan akan adanya adzab, Allah dan rasul-Nya.

Tafsir Surat Al-Mursalat (ayat 25-28)

بسم الله الرحمن الرحيم

أَلَمْ نَجْعَلِ الأرْضَ كِفَاتاً * أَحْيَآءً وَأَمْواتاً * وَجَعَلْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ شَامِخَاتٍ وَأَسْقَيْنَاكُم مّآءً فُرَاتاً * وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لّلْمُكَذّبِينَ *

25. Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul?
26. Orang-orang hidup dan orang-orang mati?
27. Dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan beri Kami minum kamu dengan air tawar?
28. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Tafsir lughawi
Banyak ulama yang memberi makna lafadz (كِفَاتاً) sama dengan (ضامة/جامعة) yang berarti yang mengumpulkan. Atau bermakna (الوعاء) yakni wadah. Maksudnya, bumi adalah wadah atau tempat berkumpulnya orang-orang hidup dan mati. orang yang hidup berjalan di atasnya sedang yang mati terkubur di dalammnya, sebagaimana yang dikatakan Qatadah, al-Syu’bi, al-Mahalli dan muffassir lain. Zamakhsyari mengatakan bahwa tidak hanya sebatas manusia yang hidup dan mati saja. Karena lafadz (أَحْيَآءً وَأَمْواتاً) berupa ism nakiroh sehingga maknanya pun umum. Senada dengan apa yang dikutip al-Mawardi dari salah satu qaulnya Mujahid, ayat tersebut bisa juga berarti tumbuh-tumbuhan dan bangkai-bangkai lainnya.
(رَوَاسِيَ شَامِخَاتٍ) para mufasir sepakat memberinya makna gunung yang tinggi. Zamakhsyari berkata penggunaan ism nakiroh pada (رَوَاسِيَ شَامِخَاتٍ) dan (مّآءً فُرَاتا) berfaedah tab’idh (menyebutkan sebagiannya saja). Karena di langit terdapat gunung-gunung -sebagaimana disebutkan surat al-Nur (24): 43- dan air tawar pula.
Dalam segi hukum, berdasarkan ayat ini para ulama beristimbath bahwa hukum menguburkan mayit adalah wajib. Ulama Syafi’iyah juga mendasarkan ayat ini sebagai dalil potong tangan bagi pencuri kain kafan mayit yang sudah dikubur.

Tafsir Ijmali
Setelah memperingatkan dan menakut-nakuti orang kafir dengan keadaan kiamat, menyiksa mereka sebagaimana umat-umat pendusta yang terdahulu, dalam ayat ini Allah memperlihatkan contoh kenikmatan-kenikmatan yang telah Dia curahkan kepada mereka tapi mereka mengingkari dan mendustakannya. Allah mengingatkan betapa banyaknya Allah melimpahkan anugrah-Nya, namun kenapa juga mereka masih mendustakan keberadaan-Nya?

Senin, 24 Januari 2011

aforisme status update part 6


demi mentari pagi yang menghangatkan sisa dinginnya malam sunyi.
sungguh dia tidak meninggalkanmu apalagi membencimu.
dan yakinlah bahwa yang kekal itu pasti lebih baik.
bukankah ketika kau sendirian dia yang menemanimu?
ia juga yang menunjukkanmu saat kau tersesat
dia bahkan mencukupimu saat kau serba kekurangan.
dia hanya ingin kau menemani mereka yang kesepian
tidak menghardik mereka yang kekurangan
untuk berbagi atas apa yang pernah kau dapatkan darinya.

(sepenggal pesan bidadari)



aku melihat hadirmu dalam setiap warna-warni kehidupan. bagaimana mereka tak menyucikan-Mu, meski diam pun mereka tetap meneriakkan keagungan-Mu karena adanya mereka telah cukup mentasbihkan ke-Akbaran-Mu.

pada kenyataannya ada 1:a=a dan a tidak harus satu. ini adalah rumus berbagi. sehingga setiap pembagi bisa merasakan semua yang dimiliki penyebut tanpa mengurangi apa yang penyebut miliki. contoh riilnya adalah sistem upload dan download

menyerahkan diri diterpa suara kebenaran. aku ragu kita tak kunjung bertemu, aku takut jangan-jangan kau tak wujud, atawa aku yang terselubung gelap ego yang bersekat-sekat tanpa sedikit caya kesadaran mengurai adamu.

tak ada teriak memekak bahkan sekedar sendu mengisak, mesin-mesin lelah mendaras rutinitas, dengkur-dengkur pun malu keluar, senyap kali ini begitu menyekap erat, memeluk membungkus dingin hati yang kian menggigil, tiap kelebat bayangmu memaksa memeras kelenjar untuk menitikkan tetesnya. aku tak tahan merindukanmu.

semenjak bising tak lagi ramai semenjak hening kian menggebyar sejak kata tak lagi menyapa sejak diam sungguh membahasa ketika itu aku tak bisa tahu bahwa kamu tidak ada

طاَلَماَ أَكْتُمُ عِشْقِي أَيْنَمَا جَاءَتْ بِدَوَاءِ قَلْبِيْ فَاهْتَرَبَتْ مُصِيْبَاتُ جَنَانِيْ

jika kau lihat aku menangis itu bukan karena rasa sakit yang kuderita, namun karena aku membayangkan kesakitan yang lebih sakit yang dulu pernah ia rasakan.

dalam hatiku cahyamu menggema-memantul berulang-ulang tak bisa keluar meruntuhkan dinding-dinding kesadaran hingga hilang adaku terlebur cahyamu oh andai cahyamu akhirnya membias kepada mereka...

cinta dan perpisahan itu bukan dua hal yang harus dipermusuhkan.

ku-uploadkan segala ibadahku (meski tak banyak) dan kupersilah kan siapa saja untuk men-download pahalanya :)

meski kau tak tahu dan aku pun sepertinya tak mau [kau] tahu sungguh setiap getar mataku mendoakanmu.

setiap entitas (yang mewujud) memiliki peran tersendiri dalam kesatuan realitas universal.

dimanakah letak ujung bumi paling timur, sehingga ia merasakan pagi pertama kali? dimanakah ujung bumi paling barat, sehingga ia adalah bagian bumi terakhir yang merasakan malam? lalu siapakah yang memegang kuasa untuk mengklaim atas penamaan hari, bulan dan tahun? sehingga pengaturan waktu dunia ada di tangannya? yang kutahu kaulah yang menguasi sadarku untuk selalu merindu.

kembali buram mengikis sebagian dosa

naik mengangkat beban, turun menahan beban, diam menjadi beban

kadang-kadang aku merasa sangat muak sekali dengan diriku sendiri tetapi di lain waktu aku bisa begitu jatuh cinta kepadanya.

biarlah kuusap pusar sadarmu, kukecup saripati rasamu, kujamah setiap napak tilas jejakmu, kuhirup getir-hangat nafasmu, biarlah aku menjadi keris yang manjing kedalammu, warangkaku.

tersedak air mata saat tiba-tiba tersadar dari pertemuan tak terduga denganmu di kedalaman bawah sana. lalu pendengaran dan suaraku menyatu mendengar dan membisikkan "betapa aku sungguh merindukanmu."

setiap getaran dari kulit-kulit kering terentang mengajariku tentang makrifat setiap hentakan bunyinya adalah gelombang berakselerasi yang menuntunku menyingkap hijab-hijab tajaliyyah-Nya bilamanakah mungkin indra kuasa bertahan menerima ketelanjangan-Nya selain pasti akan binasa kedalam-Nya (sakaw spiritual)

Sesekali ingin kubaringkan tubuh di atas tanah telanjang tanpa alas. Membiarkan kulit badan bersentuhan langsung dengan induknya. bernostalgia dan bercengkrama menggerus ego dan keangkuhan. Sementara sang hati dapat bebas meluncur terhambur menguntal jagad.

wahai sang induk dari segala induk dekaplah diriku dalam hangat kasihmu kusambut kau dengan rentangan rindu.

ketika kata tak mampu lagi mengungkap bahasa, maka keheningan melebihi segalanya

atas ketidak berdayaanku maafkanlah aku. engkaulah yang maha berdaya.

salam, salam, salam. ramadhan menjelang. kami disini akan berpuasa. menahan apa yang tak tertahan. kerakusan, kebrutalan, kecongkakan, kebinatangan, kemanusiawian. katanya untuk berakhlak tuhan. salam, salam selamat berpesta menyantap daging-daging doa, menyeruput segar luapan air mata. salam ziarah.

sungguh hening itu lebih luas dan mutlak dari sekedar seluas-luasnya ruang. dan ketika mata terbelalak aku kembali terperosok pada batas-batas luas yang mereka bangun.

kini aku dapat merasakan apa yang mungkin dulu kau selalu rasakan setiap malam meremang. mengusap anak-anakmu yang tidur pulas, dengan harap dan cemas yang berkecamuk dalam kalbu. lalu beribu doa meluncur dari ruang hatimu bekejar-kejaran dengan air mata yg meleleh deras dari mata cantikmu. salam rindu dariku untukmu.

Kulihat ronamu meredup terhijab bahak tawa, aku rindu raut teduh mukamu berlinang dosa. Tiap tetesnya meleburkan gelap mencahya binar purnama. Kapan kau kembali bersenandung mengeja kidungku?

Kutilang atau apalah, mengerjap mataku menatap kepak sayap bertebar membelah udara. Membelai halus sukma menghentak benak, untuk apa ia sesekali merentangkan kedua sayapnya tanpa kepak. Setidaknya bagiku itu telah memukau kalbu.

mereguk kenikmatan ilusi. dikejar maut dalam petualangan ilusi. hingga matinya pun sekedar maya. namun ilusi yang paling indah adalah saat kau menjengukku. maka ilusi itu akan berasa sangat nyata.

"jangankan Tuhan, iblis pun sayang dan terpesona kepada dan olehmu. tak percaya? buktinya mereka memperebutkanmu." kata nafsu kepada kalbu.

tadi entah kenapa badan bisa bergidik agak keras dibanding sebelumnya. bukan karena jijik seperti biasanya entah apakah karena berbarengan dengan sedikit getar yang padahal mungkin masih dibawah 20khz sehingga tak terdengar oleh telinga, tepatnya dibalik dada ini. namun kering mengejan yang kini sering kutelan.

apa kabar rindu? lama tak singgah sejenak menengok lelap. ini kukirim rangkaian uban yang ternyata telah mulai bercokol di kepalaku. ah pasti ubanmu telah menghitam kembali. ya semoga lebih hitam memekat dan memikat biarlah nanti ubanku bersinar terang mengenang tiap untaian uban yang pernah kucabut dari indah mustakamu.

langit, bumi dan gunung-gunung pun enggan mnerima beban kekhalifahan. bagaimana bisa manusia yang bodoh dan lalim ini dengan pongah menyerobotnya. kapan dia menawarkan kepadaku? aku masih lupa tentang perjanjian nirwaktu itu. bahkan dejavu yangg sering kualami belum sempat menjamah batas kesadaran tentangnya. allahumma j'alnaa mimman yadzkuru qaulanaa 'balaa syahidnaa.' amien

aforisme status update (part 5)


seorang pelupa berkata 'saya lupa sejak kapan saya mulai lupa, parahnya saya terkadang juga lupa kalau saya ini pelupa, maka lupakanlah perkataan saya ini karena saya juga lupa pernah mengatakannya. jadi kapan kamu membayar hutangmu? ah hampir lupa saya menagihnya, soalnya saya lupa kalau saya berpura-pura menjadi pelupa.' (bangsa yg mengidap lupa pada stadium ...(maaf lupa))

ia memang tak setegak alif. tapi kuharap ia bisa bersifat hanif.

mendadak jagad raya diam tercekat menyaksikan seorang anak terhuyung menggendong emaknya

allahku... ah punya hak apa aku sehingga berani mengklaim bahwa dirimu milikku? yang benar aku milikmu apakah bisa dikatakan sebuah mobil itu memiliki tuan-nya karena biasanya kata milik itu identik dengan kekuasaan dan penguasaan sang pemilik kepada yang dimilikinya. entah apakah bisa dibalik dengan silogisme atau bentuk logika lainnya hal yang semacam ini? karena pada kenyataanya aku sering tak mentaatati titahmu.

oh malamku meremang tanpa bintang, menggulita tanpa cahya. namun seulas senyummu melelapkanku terbuai mimpi.

Ia mencari suara lirih yang mungkin sedang menyenandungkan kidung surga di pojok kamarnya. Pikiran ini merekam setiap dengung suaranya dan meng-capture setiap gurat lekuk parasnya, juga merasakan degup jantungnya, siapa tahu terselip sekelebat namaku di sana.

menggembok kunci. membakar api. mengguyur hujan.menyembah sembah. menyiakan sia.

bocah-bocah bergunjing berisik mengusik nilai-nilai moral dan kemapanan sementara bapak-bapak mereka berebut darah, menegakkan bendera. (menyelesaikan sepenggal kalimat yang sempat terseok di Balekambang, Tirtonadi)

kuuikirkan untukmu pagi tadi sebait rindu di ujung mimpi. sudah terbacakah olehmu?ambillah ia di sela-sela embun yang menggelayut mesra di lentik daun bunga matahari.

maaf belum sempat kuseka kedua sudut matamu yang selalu menitikkan harapan dan kecemasan saat mendoakanku.

tarian sejuta cahya... aurora, masih saja engkau memukau mempesona. bagaimana tidak? berlaksa-laksa keindahan Tuhan menitis dalam jelma cahyamu. andai dapat kupungut dan kugenggam sepijar saja... sekedar menerangi kelam derita negeriku. agar ia bisa kembali berpendar menebar senyum kebahagiaan. bolehkah?

'tidak' tidak akan selalu sama dengan 'bukan.' pada kondisi tertentu ia mengada dan lebih tegas tanpa bisa digantikan oleh bukan. maka dialah negasi sejati bukan 'bukan' bukan?

jika aku mengingat lambaian tanganmu, ternyata sungguh menyesakkan dada.

sungguh aku masih dan selalu menginginkan bagaimana indah dan nikmatnya terhanyut tanpa daya dalam dahsyat pusarannya yang membinasakan. oh binasakan adaku, sadarku terlarut dalam pusaranmu

"kuhancurkan sangkar ego. luluh lantaklah semua hasrat. kutebar semua rahasia dosa. kusebarkan virus-virus cinta dalam udara kehidupan. kupaksa mereka menghirup kamuflse kesengsaraan."

tak pernahkah kau berfikir tentang kebahagiaan. kesedihan tak lain hanyalah ketiadaan akan ia. carilah jejak-jejak rasa dalam hidupmu. sedihmu ternyata hanya bagian dari sekelebat ego. napak tilas langkahmu tak pernah berhenti menghantuimu. jika tak segera membunuhnya kau akan terabsen dari ketidaksedihan.

miliki hati yang menyamudra sehingga bahkan bangkai-bangkai dengki, iri, fitnah, hujatan, cercaan, celaan jenis apapun dan darimana pun takkan mampu walau hanya sekedar mengeruhkan, apalagi menajiskan. maka ia akan tetap memancarkan kesucia dari dasar lubbnya hingga kulit kalbunya. berhati-hatilah dalam menghati-hati hati.

menurut matahari malam telah hilang. namun rembulan masih ingin berpose menarikan cahya dalam pekat. milik siapakah pekat? mesti kutanya kau nanti jika meraba mimpi. karena dalam pekat hatiku kau menari anteng sekali. selamat bermimpi kasih. biarlah matahari dan rembulan berebut pagi dan malam. dan kau tetap menari tanpa kenal malam dan pagi.

sejak kapan engkau berpenghuni sepi? siapa yang tak sopan berani menyergapkan sepi bersinggasana dalam tahta hatimu? sudahkah kuwanti-wantikan kepadamu untuk mengendalikan kesenyapan dan kesendirian agar tidak menjadi kesepian? sehingga ia hanya boleh diduduki oleh pangeran keheningan. (sesaat menengok peradaban hati ketika ia telah lelah merindu)

sebenarnya aku ingin segera melihat cahayamu berpendar menghajar pongahnya sinar kunang-kunang yang angkuh dalam keremangan. maaf bukan menghajar, hanya memberi mereka cahaya yang lebih terang. karena aku tahu cahaya tidak kasar seperti halnya sinar. namun aku harus tetap sabar menanti hinggat kau menebarkan cahaya. ya cahaya cinta

wahai yang tersesat dalam peradaban rindu... wahai yang menyesatkannya dalam kerinduan... wahai yang menyesatkan rindu wahai yang merindukan kesesatan wahai rindu yang menyesatkan wahai sesat yang merindukan. wahai rindu wahai sesat..apakah kalian saling merindukan? apakah kalian saling menyesatkan?

di batas benang tipis antara sadar dan tidakku aku melihat mereka meneriakkan namamu sementara aku tercekat membisu. hanya saja geletar dzikir mereka mampu menerbangkan sukmaku menghambur kepadamu.

tiba-tiba langit berduka mendesahkan kegetirannya. curahnya menebas kerentaan tanah-tanah lemah. seekor burung yang tersesat berteduh sesaat dalam rerimbunan dahan pohon. mataku menyisir rintik-rintik air hujan. siapa tahu kau menyisipkan salam rindumu di sela-sela rinainya.

saat kenangan-kenangan bersamamu tiba-tiba menyeruak di antara galau resahku, sungguh seketika itu aku benar-benar sakaw merindu.

terkadang aku merasakan mimpiku itu kasunyatan dan kenyataan dalam hidupku berlalu seperti mimpi. terkadang aku juga mempertanyakan kasunyatan bahwa jangan-jangan ia juga adalah mimpi panjang yang aku tersesat di dalamnya. tolong bangunkanlah aku dari mimpi-mimpi ini agar aku dapat merasakan bagaimana kehidupan hakiki tanpa mimpi-mimpi.

mungkin memang engkau tak butuh alif untuk sekedar menegakkan namamu. engkau sudah benar-benar maha bernama yang merajai nama-nama dan menamai yang tak punya nama sebelumnya sehingga mereka bisa menjadi terdefenisi. maka benamkanlah aku ke dalam samudra namamu agar aku bisa tenggelam binasa dalam sejuta pesona namamu.

rindu bisa tersenggal menyebut namamu.

ibu, air mata, telanjang



seorang ibu menjejalkan kata

dalam tangis bayinya

air mata muncrat memandikan sang ayah

yang terkapar telanjang berpeluh nikmat



25122010;0738

Kamis, 30 Desember 2010

WANITA [MENG]ADA


Judul buku : Her Story, SejarahPerjalanan Payudara

Penulis : Dra. NaningPranoto, MA

Penerbit : Kanisius,Yogyakarta

Tebal : 258 halaman

Cetakan : pertama, 2010

Peresensi : Warih Firdausi*

Perbedaanmendasar antara laki-laki dan perempuan rupanya membawa lebih banyak lagi perbedaansetelah mereka mengada dalam ruang publik bernama masyarakat. Adanya perbedaananatomi tubuh antara pria dan wanita membentuk asumsi masyarakat terhadappemisahan hak dan kewajiban antara keduanya. Perbedaan tersebut seringkalimenjelma kesenjangan dalam berbagai lini kehidupan baik ekonomi, sosial,politik, bahkan ritual keagamaan. Akhirnya, perempuan distigmakan sebagai konco wingking atau sekedar second sex yang berfungsi hanya sebagaipelengkap kehidupan lelaki saja. Stigma miring itu barangkali berangkat daripemahaman terhadap teks agama yang kaku atau arogansi maskulinitas. Terlepas dari apapun sebabnya kita harus mengakui bahwa itulah produk budaya patriarkhiyang terlanjur mendarah daging.

Dalam buku ini,Naning Pranoto mengajak kita merenungkan sejenak kehidupan perempuan. Betapaternyata mereka memegang peran yang sangat signifikan yang bahkan melampaui laki-laki.Namun dalam kenyataannya mereka seringkali tidak pernah mendapatkan hak-hak yangseharusnya mereka terima. Penulis menceritakan bagaimana para TKW menjadipahlawan devisa bagi negaranya tidak mendapatkan perlindungan hukum yang memadaidi luar negeri tempat mereka mengais rezeki. Sehingga tak jarang kita mendengarkasus-kasus penyiksaan majikan terhadap para TKW. Sementara itu, negara takmampu melakukan usaha apapun untuk membela mereka.

Buku yang sarat denganbukti-bukti historis dan faktual ini ditulis secara reflektif dan komunikatif.Barangkali inilah yang menjadikan buku ini mudah dicerna dan menggugah paraperempuan untuk bangkit menegaskan eksistensinya. Perempuan adalah subyekdiantara subyek-subjek yang lain (Others). Subyek adalah setara dengan Subyeklainnya. Sebab setiap Subyek memerlukan Subyek lainnya (hal 50). Oleh karena itu, perempuan tidak boleh dipandang hanya sebagai objek yang bisa dinikmatidan diperlakukan sewenang-wenang oleh kaum lelaki.

Feminisme yangdituangkannya dalam buku ini juga bukan faham yang mendudukkan laki-lakisebagai musuh yang harus dibenci. Penulis juga tidak terjebak kepada feminisme liberal-radikal yang cenderung selalu menyalahkan laki-laki. Mungkin karenacara pandang itulah banyak diantara wanita memilih menjadi lesbian. Menurutpembacaan saya, penulis buku ini memiliki ekspektasi akan terciptanyakesetaraan status dan hak antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan tersebut harus terejawantahkan dalam ruang nurtural (konstruksi budaya) tanpa memandangperbedaan kelamin (gender) yang merupakan faktor bawaan (natural).

EksploitasiTubuh Perempuan

Seiringberjalannya waktu, masyarakat sedikit demi sedikit mulai menerima hadirnyaperempuan untuk ikut berpartisipasi dalam bidang yang dulu masih dianggap tabubagi perempuan. Tetapi kesuksesan feminisme ini ternyata tidak selamanyaberdampak positif. Karena pada kenyataannya ia membawa efek samping. Kendati parawanita telah berani dan dapat diterima untuk bersanding setara dengan laki-lakidalam berbagai aspek kehidupan, rupanya ada pihak (bahkan dari kaum perempuan sendiri) yang mencuri kesempatan untuk memanfaatkan mereka.

Terbuka luasnya ruang publik bagi kaum hawa ternyata juga membuka peluang ranjau bagi mereka. Banyakperempuan yang bekerja dan dipekerjakan bukan karena kemampuan dan keahlianmereka, melainkan karena kemolekan tubuh mereka. Tak sedikit diantara merekayang rela menjadikan organ vitalnya sebagai "mesin uang". Antara lainpenonjolan payudara, mulusnya paha, dan lekuknya pinggal-pinggul tidak hanyauntuk mengiklankan pakaian dalam dan pakaian renang tetapi juga parfum, kasur pegas, mobil mewah, supplement dan minuman (hal 193). Bahkan dengan bangga mereka menganggap hal tersebut bagian dari kebebasan wanita sebagai manifestasikesetaraan gender.

Ironisnya bentukpenjajahan berupa eksploitasi tubuh semacam ini justru yang paling diburu oleh para wanita muda dari berbagai pelosok yang datang ke ibukota (hal 194).Apalagi orientasinya kalau bukan semata-mata karena uang dan uang? Tak ada lagi terbersit di pikiran mereka tentang arti kemerdekaan dan arti kemampuan padadiri mereka. Bagi mereka, bekerja dengan "pamer tubuh" adalah jalan terabasuntuk meraih banyak uang dengan mudah dan cepat tanpa perlu kerja keras secarafisik maupun otak. Bukankah hal ini sama sekali tidak mengukuhkan adanya kemampuan, kecerdasan dan keahlian yang melekat dalam diri wanita?

Jika demikian apalah arti kata wanita yang dalam kereta basa -permainan bahasa- jawaberarti wani ing tata (berani dalam tata-menata)? Hal ini tidak hanya bermakna bahwa wanita harus berpenampilan menarik dan pandai bersolek saja. Lebih dari itu ia harus dapat menata serta mengelola dirinya dan kelak keluarganya yang mau tidak mau harusmembutuhkan kemampuan, keahlian dan keterampilan. Dengan demikian wanita tidaksekedar "ada" sebagai pelengkap saja, namun ia "mengada" sebagai subyek otonom.Sehingga perempuan "mentas" ke dunia ini tidak sia-sia. Karena hadirnya turutserta mewarnai dan mempengaruhi gemerlapnya dunia.

KOMUNISME AGAMA-AGAMA, AGAMA-AGAMA KOMUNIS


Judul buku : Madilog, Materialisme, Dialektika dan Logika

Penulis : Tan Malaka

Penerbit : Narasi, SumberanYogyakarta

Tebal : 568 halaman

Cetakan : pertama, 2010

Peresensi : Warih Firdausi*



Gurita kapitalismedi Indonesia, walaupun telah terbukti borok-boroknya, selama kurang lebih 45 tahun semenjaktumbangya orde lama seolah semakin menggedibal. Agaknya pemegang kuasa negeriini sudah benar-benar ekstase tercandu oleh faham ini. Dengan kepongahan kuasa,mereka menghalalkan segala cara untuk melayani hasrat perut mereka sendiri. Akhirnyakapitalisme mencipta kelas-kelas kasta baru. Borjuis (pemegang modal) danproletar (kaum buruh/ rakyat jelata).

Sesuai prinsip kapitalisme, siapa punya modal dia yang berkuasa. Sadar atau tidak, sebenarnyamereka, para pemimpin negeri ini juga sedang dipermainkan oleh tangan kuasayang lebih besar dari mereka. Bagaimana tidak? Berapa persen penghasilan Negara kita yang katanya gemah ripah loh jinawi,tukul kang sarwo tinandur, sehingga mendapat gelar sebongkah tanah surga, lari ke kantong investor asing? Inilah akibat dari kertergantungan terhadap modal luar negeri. Jika mereka tidak sadar berarti Negara kita ini sedang dipimpin oleh orang-orang yang tolol. Dan parahnya lagi jika mereka melakukan hal tersebut dengan penuh kesadaran, sungguh bejat sekali orang yang tega menjual negaranya demi kepentingan nafsu pribadi.

Dalam kitab (ia menyebutnya begitu) Madilog ini, sebenarnya Tan Malaka (tahun 1942-1943, ketika menulis buku ini) me"ramal"kan bahwa Indonesia kita akan bangkit dan merdeka jika terjadi ledakan kekuatan tersembunyi kaum proletar. Kekuatan tersembunyi ituseperti gaya potensial yang tersimpan dalam pegas yang terus menerus tertekanoleh kebengisan dan ketidakadilan. Maka tatkala pegas ini telah mencapai titik puncak daya tahannya, ia akan meledakkan gaya kinetiknya sekuat-kuatnya yangakhirnya melahirkan revolusi peradaban. Dia percaya Indonesia telah lamamengandung kekuatan tersembunyi itu, sayangnya masyarakat kita masih banyakyang terbuai oleh takhayul dan ilmu akhirat yang tercampur aduk (hal17). Mereka belum insaf untuk melek filsafat dan berfikir logis. Bahkan hingga zaman modernini, mental mistis bangsa Indonesia masih terasa kental sekali. Bagi Tan Malakaselama masyarakat masih berfikir menggunakan "logika mistik" maka ia takkanpernah maju.

Dengan gayabahasa laiknya orang yang sedang bertutur cerita, Tan Malaka membawa pembacamenjelajah pelbagai ilmu pengetahuan dari matematika, logika, fisika,astronomi, sejarah sampai filsafat yang beraliran dialektika materialis yang banyak dipengaruhi oleh Frederich Engel dan bapak Sosialisme, Karl Marx. Inilahyang menjadi kelebihan sekaligus kelemahannya (untuk zaman sekarang). Di satusisi hal ini menegaskan kemahirannya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Tetapidi sisi lain terkadang pembaca (zaman sekarang) merasa tak jauh beda denganmembaca buku pelajaran sekolah, hanya saja dengan contoh yang berbeda dan lebihkonkrit. Yang patut dihargai dan mungkin disayangkan pula, penyunting buku inihanya sempat membenahi ejaan hurufnya saja, sedangkan gaya bahasa dan diksikitab Madilog masih seperti gaya bahasa jadul sehingga terkadang membuatpembaca harus membaca berulang kali agar mendapatkan pemahaman yang sempurna.

Di bagian akhir buku ini, Tan Malaka menyinggung sejarah agama-agama, khususnya monotheis. Iamenjelaskan bagaimana agama-agama tersebut saling berseluk-beluk,masuk-memasuki dan saling membawa pengaruh satu sama lain. Sehingga tak adagunanya memperuncing perbedaan yang mengakibatkan konflik berkepanjangan. Bahkan imbuhnya, tiga agama monotheis,Yahudi, Nasrani dan Islam yang nota bene paling kerap berkonflik menurutnyaadalah tiga sejiwa. Karena mereka lahir dari satu bangsa, bangsa Semit (Yahudidan Arab) yang mempunyai ujung yang sama yakni Nabi Ibrahim. Ketiganya jugamempunyai persamaan jiwa dan persamaan sari yang berinti pada satu Tuhan (hal460).

Dia jugamenganggap bahwa ketiga agama tersebut memiliki unsur-unsur pembebasan,egaliter, dan kominisme. Ia menggambarkan bagaimana ketegaran Nabi Musamemperjuangkan dan membela hak kaum budak bani Israil melawan tirani Fir'aunyang maha kejam. Bahkan dalam agama Kristen yang sekarang menjadi pengamal kapitalismeterbesar di dunia, menurut Tan Malaka mereka mengamalkan teori komunismesederhana ketika dulu Yesus masih hidup (hal478). Nabi Isa dengan berlandaskan ajaran kasihnya terhadap sesama tetap teguh memegang asasnya sampai nafas terakhir.

Begitu puladalam agama Islam, bagi Tan Malaka Nabi Muhammad adalah Rasul terbesar danparipurna bagi monotheisme yang menyempurnakan ajaran keesaan agama-agamasebelumnya sebagaimana Einstein menyempurnakan teori pamungkas Relativitas.Maka pesan ke-egaliteran Islam sebagai agamanya pun paling jelas. Islam mengajarkan persamaan semua manusia di mata Tuhan. Setiap manusia bisa langsung berhubungan dengan Tuhannya tanpa melalui kasta rabi atau pendeta sebagaiperantara atau cukong dan tengkulak antara hubungan manusia dengan Tuhan. Danprinsip ini seharusnya juga berlaku dalam kehidupan bermasyarakat.

Namun, tetapsaja setiap zaman mempunyai metode tersendiri untuk menghadapi problematikanya.Meminjam istilah Ayu Utami, apa yangmendesak sekarang belum tentu penting di kala lampau dan kala depan. Melihat kuasa logika dan teknologi yang pada kenyataannya juga membawa dampak negatif,seperti mutlaknya kebenaran dan dekadensi moral, lantas apakah paradigmaMadilog cocok untuk kondisi bangsa Indonesia saat ini? Untuk mendapatkan jawabannya silakan membaca Kitab Madilog secara sempurna.

MENYIBAK DODOT MANUSIAWI*

*cerpen ini pernah dimuat di Surabaya Post


Leyeh-leyeh menghisap mbako lintingan. Merebahkan lelah pada dipan. Bersiul sembari menatap laku zaman yang semakin edan. Menghitung laba mengakali rugi.

“asu asu… uangku lidis untuk menyuap polisi.”

Tiba-tiba benak ini teringat sebuah cincin. Cincin yang kutemukan di samping hape pada ventilasi pintu wc. Kuamati setiap lekuk busurnya. Indah sekali. Satu busurnya dari besi. Busur yang lain dari kuningan mengkilap. Matanya mutiara bundar tergores sepasang segitiga yang saling berpangutan. Sungguh mesranya mereka bercinta gaya 69. Mereka berpadu saling tumpu dan berikatan membentuk heksagram. Bintang simetris bersudut enam. Di kelilingi oleh empat intan permata gemerlap.

Kupasangkan cincin itu ke jari kiri. Kuamati lekat-lekat. Pas sekali. Ah, aku ingin sejenak terlelap, bermimpi menjadi Sulaiman. Raja digdaya nan kaya raya. Kan kuperbudak jin dan manusia, kupersunting beratus ratu sejagad, kujadikan selir beribu miss universe sepanjang zaman.








* * * *



“auuu... wong wong wong…” kudengar asu milik singkek depan langgar menyalak seperti mengejekku.

“wong wong wong…” kudengar asu itu juga memisuh. Menguntabkan kekesalan dan keterzhaliman.

“wong wong wong…“ bahkan kudengar ia memaki kawannya. Menghinakan dan mengumpat sesamanya dengan sebutan “wong”

“Wong wong wong…” itu juga yang kusimak saat pencuri masuk ke rumah tuannya. Tak kudengar umpatan lainnya seperti jancuuk, anjrit, diampuut, bahkan celeng. Lama-lama aku jengkel,

“assuu koe suu…”

“ah tenyata baginda juga sudah tercemar konstruksi budaya pisuhan bangsa ini. Hamba kira baginda Sulaiman tak bisa misuh.”

“eee.. eee… tak ingatkah kau ketika akan kusembelih hudhud? Pisuhan, umpatan itu manusiawi. Bahkan semulia-mulia manusia, kanjeng Nabi Muhammad pun pernah sesekali memisuhi kabilah Lihyan, Ri’l, Zakwan dan ‘Usaiyah.”

“Ya manusiawi tapi bukan insani tuan. Yang membuat hamba serik adalah bangsa ini memisuh dengan nama hamba. Bukan hanya itu, terlebih kami tak lagi menemukan makhluk terbejat yang pantas untuk dijadikan pisuhan selain wong.“Wong wong wong…”

“Beraninya lagi kau memisuhi dan menghina makhluk ahsani taqwiim. Mau kupenggal kau nanti?”

“Ampun baginda, tapi sudah terlalu banyak manusia yang terjerembap ke jurang asfalas safiliin. Kuping mereka budeg, mata mereka picek, tangan mereka sudah buntung. Mereka sudah kehilangan nurani. Setiap hembusan nafas berbau curiga dan prasangka. Akhirnya dada mereka sesak dengan kebencian. Mereka sudah tidak punya tepo slira, tidak tanggap ing sasmita, apalagi rasa tresno. Mereka relakan kemanusiaan mereka untuk menjadi sekedar binatang.”

“Lho, lha kok nglunjak koe su.. Pantes kanjeng Nabi Agung menajiskan dan mengharamkanmu, seperti najisnya celeng titisan yahudi terlaknat. Tak salah bangsa ini menjadikan namamu sebagai pisuhan.”

“Sekali lagi ampun baginda, lupakah baginda akan makna haram itu? Setahu kami, itu karena kanjeng Nabi memuliakan kami. Mungkin beliau tahu nenek moyang kami dulu adalah titisan dewa yang akhirnya dihukum menjadi si Tumang. Ayahanda si Sangkuriang yang bejat karena ingin menikahi ibundanya, Dayang Sumbi. Entah kenapa sepeninggal beliau, tiba-tiba umatnya begitu membenci kami. Jangankan tubuh kami masuk masjid, lha wong hanya nama kami saja yang keluar dari mulut bocah tak berdosa langsung ditampar oleh imam mesjid.”

“Alah su.. su, Masa ada kanjeng Nabi percaya sama yang namanya dewa. Syirik murokkab namanya, kontradiktif sekali bualanmu itu. Kau ini memang minal dobolin wal gedebusin.”

“Memang beliau tidak percaya, tapi beliau sangat menghargai budaya lokal sebuah bangsa.”

“Buss… Lebih baik kau ini nrimo ing pandum wae su.. Takdirmu menjadi asu ya sudah jangan bermimpi jadi dewa.”

“Lho hamba ini nrima tuanku, kurang nrimo bagaimana? Bahkan hamba bangga jadi asu. Menjadi pengawal dan tunggangannya dewa Syiwa.”

“lah wis murtad kamu su…”

“Ampun baginda, tak ada kata murtad dalam kamus kehidupan kami. Murtad hanya berlaku bagi manusia bukan binatang seperti kami. Baginda juga jangan menjustifikasi syirik kepada kami. Kami percaya pada Gusti Allah melampaui wong wong itu. Hanya saja kami bangga menjadi simbol makhluk yang paling taat kepada tuannya. Tidak seperti wong-wong itu. Jangankan keluarga dan Negara, lha wong Pengeran Rabbul ‘izzati saja mereka khianati.”

“Kau ini, pandai berapologi su..”

“Ini bukan apologi, ini kenyataan tuanku. Justru wong-wong itulah yang pandai bersilat lidah. Sampai-sampai alqur’annya kanjeng Nabi secara jelas menyindir mereka aktsaru syai’in jadala. Oh, Baginda mungkin belum kenal lembaga perwakilan rakyat negeri ini. Apalagi kalau pemilu, tidak hanya ngusap dada, hamba sampai ngusap kelamin juga baginda…”

“Halah pikiranmu itu ngeres men to, ….”

“Ampun beribu ampun baginda, salah siapa baginda? Lha wong saya cuma menikmati “wudodari-wudodari” itu ngebor kok. Oh iya, tahukah baginda? Wong-wong itu sekarang tak lagi hanya melacurkan wudodari-wudodari , bahkan mereka telah berani melacurkan Negara dan agama. Asset-aset Negara diselundupkan, hukum dibuat mainan, agama dijadikan komoditas kepentingan. Masih mending onani hamba yang diiringi masturbasi spiritual. Mensyukuri dan menikmati jamaliyah Tuhan yang terpancar dari pupu-pupu mulus dan goyangan erotis para biduan.”

“Elho berani-beraninya kau mencampur adukkan nafsu dengan ibadah. Itu bid’ah dhalalah.”

“Kata siapa baginda? Lha wong hamba ini meniru sunnah baginda.”

“Sunnah yang mana? jangan mengada-ada kau!”

“Bukankah baginda mendakwahkan agamanya Gusti Allah dengan menikahi ratu-ratu sejagad?”

“Lho beraninya kau menghujat Rasul Allah. Utusan Allah itu pengganti Gusti Allah di muka bumi, Khalifatullah fil ardh. Sayyidin panatagama, Satriyaning nagari. Sabdanya titah Pengeran, amarahnya murka Tuhan. Lha kok kamu ngoceh sak enake wudelmu.”

“Ampun baginda, hamba tahu semua itu. Namun setahu hamba tidak ada wudel yang bisa ngoceh selain wudel wudodari-wudodari yang membangkitkan birahi. hihihih”

“Cangkemmu ndak punya sopan santun. Ngomong sama kamu memicu amarah. Mengotori hati. Padahal susah payah aku me-rekso-nya. Aku pamit dulu su, hendak menentramkan hati sembari menggilir ratu-ratuku.”

“Sumonggo baginda, ndherekaken.”



* * * *



Seingatku, ini hari keempat puluh setelah kudapat cincin itu. Angin berhembus mengarak awan. Awan menari menghibur cakrawala pagi. Dari angkasa kulihat elok panorama bumi.

“Subhanallah… indah sangat dunia Panjenengan Gusti. Membuatku semakin berhasrat menjamah nirwana Panjenengan yang maha edi.” Tiba-tiba awan yang kukendarai tersesat dalam gumpalan pekat mendung.

“Gusti Allah nyuwun ngapuro… Hei awan, Bukankah kusuruh kau pergi ke jepang? Lupakah kau jam sembilan tepat jatahku menggilir Miyabi? kenapa pula kau bawa Nabimu ke gumpalan mendung ini? Bukankah bulan ini bukan jadwalmu untuk mengguyur bumi?”

“Ampun baginda, bukan maksud hamba membangkang. Ini diluar kuasa hamba. Sistem sirkulasi dan hidrologi bumi kami dikacaukan oleh wong-wong tengik itu . Mereka telah terlalu melukai atmosfer bumi. Uap dan asap dari mesin-mesin industri canggih mereka mengoyak selimut ozon kami. Bukan hanya itu, mereka membabat habis jantung bumi tanpa melakukan reboisasi. Akibatnya komposisi udara tak terkontrol. Emisi karbon kami membludak menjelma rumah kaca. Terik matahari panasnya makin berlipat kali. Mereka terjebak, terpenjara tak bisa keluar dari atmosfer bumi. Akhirnya ac pendingin bumi di utara dan selatan meleleh membentuk gletser yang sedikit demi sedikit mengikis habis pulau-pulau bumi. Wong-wong bagsat itu benar-benar bejat tak bertanggung jawab.”

“Walah kau ini sama saja dengan asu. Sukanya mengutuki bangsaku. Bisakah kau membelokkan arah, mengambil lajur lingkar menghindari hujan?”

“Ampun tuanku. Jika angin tak bertiup kencang insya Allah akan hamba usahakan tuan.”

“Awan, tahukah kau kenapa akhir-akhir ini petir sering sekali menggelegar memekakkan telinga manusia?”

“Oh itu baginda, mungkin gara-gara saudaraku angin sedang gencar-gencarnya bercinta untuk mereproduksi ozon yang beberapa telah koyak oleh gas-gas beracun ciptaan manusia.”

“Benarkah? Lalu kenapa bumi tetap saja semakin panas?”

“Itulah yang kami takutkan baginda, jangan-jangan saudari angin telah monopouse tak sesubur dulu lagi. Atau barangkali justru saudara angin yang senjatanya telah expired, mejen dan mandul. Ini benar-benar ngalamat akhir zaman baginda.”

“Ee ladalah cilaka baginda?”

“Ada apa wan? Kau membuatku khawatir saja.”

“Gusti kang Murbeng Dhumadi punya kehendak lain baginda.”

“Kehendak yang bagaimana?”

“Tidakkah tuan merasakan suhu daerah ini menjadi anjlok secara drastis?’

“Wah benar, kenapa tiba-tiba di sini menjadi adhem sekali? Sebentar lagi pasti angin dari segala penjuru akan mendorong awan-awan yang mereka arak menuju ke sini. Kita terkepung.”

“Tuanku baginda, ampun beribu ampun tuanku. Hamba sudah tak kuat lagi menopang tubuh gempal baginda. Suhu yang anjlok sebentar lagi akan membuat hamba mencair. Jatuh menyiram bumi.”

Benar saja, tanpa menunggu hitungan menit, awan tempatku bertelekan telah mulai mengembun. Bergegas kujejakkan kaki ke awan lain yang mungkin lebih padat. Percuma, itu pun tak lama. Nasib mereka sama. Percikan kilat menyambar dimana-mana. Diikuti gelegar guruh berteriak memekakkan telinga.

“Duh Gusti nyuwun ngapunten, apa yang hendak Panjenengan pamerkan kepada hamba? Akankah Panjenengan hendak men-tajalli-kan ke Maha Perkasaan-Mu melalui gledek-gledek itu? Sebagaimana yang dulu Panjenengan lakukan kepada simbah Musa di atas bukit Thursina?”

Di luas altar lazuardi, plus minus udara sedang mengejar klimaks persetubuhan. Ah, sebentar lagi pasti mereka akan oragasme memuntahkan air kehidupan. Jauh dibawah sana bumi menggoyangkan lidahnya bersiap sedia menguntalku.

“Bumi gunjang-ganjing, langit klat-klaton….” Bergetar hebat sekujur badan. Hingga cincin mutiaraku terlepas jatuh ke lautan. Bercampur zabarjud, lu’lu’ dan marjan. Mulut bumi semakin bergravitasi kuat menghisap jasad. Buru-buru kupejamkan mata dan kuteriakkan syahadat sebelum benar-benar terlumat.



* * * *



“Gedebuk…” Mataku terbelalak kaget. Dengan nafas memburu kuberusaha menyusun kembali memori-memori yang berserak antara mimpi dan kasunyatan. Syukurlah aku terhindar dari kematian. Hanya saja pinggangku nyeri jatuh dari dipan. Anehnya, cincin mutiaraku benar-benar hilang. Baru saja otakku berhasil menguasai kesadaran, kudengar suara ricuh meraung-raung. Aku diseret keluar oleh aparat berseragam. Kios jamuku diluluh lantakkan. Jamu-jamu daganganku diusungi ke dalam truk bersama barang dagangan orang-orang. Aku berteriak menghadang, malah ditendang.

Kudengar teriakan dan umpatan kawan-kawanku sesama pedagang,

“Kalau begini buat apa saban hari kami bayar karcis dan keamanan? Dasar aparat bajingan… mikerke udele dhewe.”

“Bug..” Bogem mentah melayang menghantam rahang. Ingin kami lempari mereka dengan batu bahkan tahi. Tapi bedil mereka menciutkan nyali. Aku sudah tak tahan lagi. Kupisuhi anjing-anjing kapitalis itu keras-keras. Entah kenapa huruf “s (es)” tiba-tiba menguap lenyap dari pita suaraku. Yang keluar hanya lengkingan panjang bernada sengau,

“auuuu… wong wong wong….”



Semarang, 17082010/07091431





NB: cerita ini hanyalah fiktif belaka. mohon maaf apabila ada kemiripan nama, sifat, karakter atau tingkah laku. karena semua itu sama sekali memang bukan kebetulan.

terima kasih.

Minggu, 06 Juni 2010

DUKAMU DUKAKU, DERITAMU DERITAKU

Neng Lub, begitu gadis yang memiliki nama lengkap Tsamratul Lubbiyyah kami sapa. Siapa yang menyangka dalam anugrah wajah yang anggun, teduh menawan, selalu menyunggingkan senyum manis kepada setiap yang memandangnya, sehingga mungkin hanya orang buta yang tak terpikat oleh pesonanya, dan juga tuli karena jika kau amati secara seksama, bahkan daun-daun pun ikut merunduk lirih jika mendengar tutur lembut dari indah suaranya, seolah mentasbihkan pencipta senandung merdu yang sedang berkidung itu, ternyata tergaris nasib derita tak terperi dan pahit-getir kehidupan yang menyayat hati akibat sebuah sistem kekuasaan imperial yang mentradisi sehingga menjadi semacam dogma dalam kehidupannya.
Neng Lub memang berbeda. Dia adalah putri bungsu kyai kami. Usianya selisih satu tahun lebih muda dariku walaupun dalam sekolah kami satu kelas. Selain cantik dan pintar (ma’af bukan cerdas), ia juga rendah hati, tidak merasa sok putri kyai. Menurut cerita-cerita gunjingan anak-anak putri pesantren kami yang kami dengar dari para pacar mereka, neng Lub tak segan makan senampan bahkan juga ikut memasak dan tidur bersama mereka. Dan ia lebih senang dipanggil oleh mereka dengan sebutan Mbak, bukan Neng. Sudah cantik, pinter, tidak sombong pula. Betul-betul cermin wanita shalihah, sebaik-baik perhiasan dunia bukan?
Tentu saja tak hanya para santri dan gus-gus, bahkan bajingan sekalipun pasti punya hasrat untuk memilikinya. Mulai dari alasan nafsu bejat hinggga alasan yang entah itu tawadhu’, tafa’ul[1] atau sekedar apologi untuk menutupi alasan yang pertama, “ngalap berkah.” Apapun motifnya, sungguh beruntung sekali lelaki yang bisa mendapatkan putri bungsu KH. Zarkasyi ini. Maka tidak salah dan tidak asing jika setelah shalat berjama’ah, terdengar di sela-sela doa-doa kami pekikan kecil dari seseorang atau beberapa santri “jodohkan aku dengan Neng Lub ya Allaah.” Dan para santri lain pun menyahut dengan keras “Aaamiiin...” Tak terkecuali aku.

* * * *

Adalah Gus Dullah dan kang Tohar. Mereka adalah teman-teman terdekatku. Dulu ketika kami sedang tongkrongan di warung mie ayam mak Juma’inah merayakan kemenangan kang Tohar dalam lomba qira’ah se-kabupaten, kami sempat membuat semacam taruhan kecil-kecilan. Barang siapa yang mampu mendapatkan hati neng Lub akan ditrkatir mie ayam, rokok, es teh sepuasnya oleh dua orang yang kalah. Taruhan khas pesantren.
Kendati aku pingen sekali mendapatkan hati neng Lub, rasanya tidak mungkin bersaing dengan kedua sahabatku ini. Meskipun tampangku tak kalah saing dengan mereka, namun dalam segi ras keturunan Gus Dullah pasti lebih unggul. Apalagi kalau harus saingan sama kang Tohar. Dia itu satu kali baca bait alfiah[2] langsung melekat di otaknya. Macam lem alteko otaknya itu.
“Lek, siap-siap aja mie ayamnya, baru saja aku luncurkan surat cintaku kepada neng Lub tersayang. Dia pasti langsung klepek-klepek baca puisiku. Hahaha..” kang Tohar mulai bertingkah.
“eit, jangan merasa di atas angin dulu kang.” Gus Dullah menyerobot.
“neng Lub itu sudah tak pagari pake pake wa alqaitu.”[3]
Aku mencoba mematahkan bualan Gus Dullah sembari menghibur diri, “Ah, mental gus mahabbahmu, wong abah Zarkasyi itu jadugnya sudah tersohor sak propinsi. Kecuali kalau sampean berani bilang langsung sama abah sampean. Pasti langsung dilamarken. Tapi apa iya sampean sudah berani? Lha wong alfiah dapat separo aja belum.”
“Hahaha… “ kami pun tertawa dengan pikiran masing-masing.
Sebenarnya sekarang aku sudah ingin melenyapkan rasaku terhadap neng Lub. Aku teringat pesan ibuku satu bulan lalu di ambang ajalnya. Beliau berpesan kepadaku untuk istqomah belajar. Jangan berpikiran yang macam-macam dulu, termasuk wanita. Kasihan bapak yang kerja sendirian membiayai sekolahku dan adik-adiku. Apa ndak punya hati, bapak di rumah jungkir balik memeras keringat supaya anak-anaknya jadi orang semua, di pondok aku malah enak-enakan pacaran. Ah mungkin ibuku khawatir usia remaja sepertiku biasanya sudah tercemar virus pacaran. Ya naluri keibuan selalu saja mengkhawatirkan anaknya. Dan ternyata memang terbukti kekhawatirannya itu.
Semenjak tiga puluh hari terakhir ini ritual sebelum tidurku berubah. Sebelumnya setiap kali merebahkan badan untuk terlelap, selalu saja pikiran ini melayang menerabas tembok besar yang menyekat menjadi batas pondok putra dan putri. Ia mencari suara lirih yang mungkin sedang menyenandungkan kidung surga di pojok kamarnya. Pikiran ini merekam setiap dengung suaranya dan meng-capture setiap gurat lekuk parasnya, juga merasakan degup jantungnya, siapa tahu terselip sekelebat namaku di sana.
Kini pikiran dan hatiku tetap menembus tembok besar itu. Namun ia tak berhenti dan terus melayang menuju Solo lalu mencari dua nisan yang masih kukuh menancap dan menghujam tanah-tanah lemah. Sekarang wajah ibuku yang terus terngiang di benakku. Mengenang setiap waktu yang pernah kami habiskan bersama. Menyesal belum sempat kuseka kedua sudut matanya yang selalu menitikkan harapan dan kecemasan saat mendoakanku. Ia telah lebih dulu menghadap ke haribaan-Nya.
Maka bergantilah penghuni hati ini. Rasa cinta telah tergusur oleh rindu. Bukan kepada neng Lub lagi (walau sesungguhnya hati kecilku masih mendambakannya), melainkan kepada ibu.

* * * *

Semburat cahya matahari kian melunak dan meremang di ambang senja. Siluet sinarnya kini tak lagi garang menyengat, bahkan ia menjelma panorama indah memerah keemasan di ufuk barat. Alunan qira’ sudah meraung-raung dari corong beberapa masjid. Suara murottal imam al-Ghomidi yang disetel dari kaset masjid raya desa ini ibarat alarm yang mengingatkanku untuk segera kembali ke pesantren. Maghrib sudah menjelang, aku harus menyudahi khalwat (menyepi) rutinku di makam mbah Ibrahim ini.
Ketika hampir memasuki gerbang pesantren, tiba-tiba aku mendengar namaku dipanggil oleh suara halus berasal dari koperasi pesantren kami yang letaknya tepat di seberang gerbang pesantren disamping ndalem-nya Abah.. Hatiku sempat berdesir sebentar. Ah, ternyata bukan suara neng Lub. Entah kenapa ada sedikit perasaan lega tercampur sembelit kecewa.
“Ada apa mba Fat? Mau ngasih bancaan nih?” gurauku sambil menghampirinya.
“Ya mas Malek, ini lho bancaan dari mba Lub, katanya buat sampean,”
“Mba Lub?”
“Iya, neng Lub maksudnya, wah gayanya sok gak kenal” jawabnya mesam-mesem.
“Ini khususon apa buat bancaan rame-rame?”
“Ya terserah sampean kalau mau buat rame-rame, yang penting suratnya buat sampean.” Ia melirihkan penggalan kalimat terakhirnya.
“Surat? Surat apa?” sergahku heran.
“Halah lagakmu lho mas kok mbodoni gitu toh? Buka aja, nanti kan tau sendiri!”
Sesampai di pondok, kubagikan bancaan tadi kepada kang Tohar dan Gus Dullah yang baru saja selesai main bola. Lantas kubuka sesobek kertas yang dikatakan surat tadi. Isinya singkat, lugu dan sederhana “terima kasih kiriman puisinya mas, indah sekali saya sangat suka. Maukah mas Malik membuatkannya lagi untukku?”
Aku tertegun heran. Bukankah kemarin yang mengirim surat dan puisi kepada neng Lub itu kang Tohar, bukan aku? Masa neng Lub salah nulis nama, atau barangkali...
“Kang Tohar… langsung saja kupanggil ia yang sedang bersama Gus Dullah duduk bertelekan bersandar dinding depan kamar.
“Kenapa Lek?”
“Kemarin sampean kan yang nulis surat dan puisi ke neng Lub to?”
“Ya, betul.”
“Lho kok aku yang dapat balasannya ya?”
“Emang balasannya gimana?” selidiknya penasaran.
“Nih baca sendiri.”
“AlhamduliLlaaah, misi kita berhasil gus Dul...” kang Tohar berteriak kegirangan.
Gus Dullah yang mendengar teriakan kang Tohar akhirnya masuk kamar dan ikut nimbrung.
“Selamat ya Lek.” Tiba-tiba ia menyodorkan tangannya mengajak berjabat tangan.
“lho apa-apaan ini. Yang berhasil kan kang Tohar bukan aku?” sergahku tambah heran.
“Jadi begini,” kang Tohar mulai bertutur sok dewasa. Setelah menghela nafas sejenak, memberi jeda seolah agar aku penasaran ia melanjutkan,
“Sebenarnya aku dan gus Dullah yang mengirimkan surat dan puisi itu atas namamu. Sebab kami tahu kau sangat mencintai neng Lub dan kami juga tahu dari gelagatnya Neng Lub yang kami perhatikan saat sekolah dan mengaji, agaknya dia pun memendam perasaan yang sama kepadamu. Makanya kami mengalah saja dan memutuskan nyomblangin kalian berdua.”
“Apa? Oh jadi sampean-sampean ini berkomplot toh. Kurang ajar, komplot gak ngajak-ngajak.” Kutinju pelan perut buncit gus Dul.
“Lha terus puisi yang sampean kirimkan itu... nah, berarti sampean berdua bertanggung jawab harus membuatkannya lagi ya.”
“Yo moh, wong itu puisi puisimu sendiri. Aku sama kang Tohar nyontek dari tulisan semrawut di pintu gothakanmu[4] . Selanjutnya kau tanggung sendiri Lek. Hahaha… jangan lupa nanti malam kau nraktir kita berdua. Soalnya dirimu kan cuman kayak bos gak ngapa-ngapain. Kita berdua yang repot.”
“Wah masa’ gitu sih, kan gak ada kesepakatannya?
“Yo diniati syukaran lah Lek.” Sahut kang Tohar sembari tiba-tiba dengan gaya kampungannya berdiri merentangkan kedua tangannya dan berhambur kepadaku sambil berteriak
“Neng Lub,, kemarilah kupeluk dirimu…”
Aku pun tak sempat menghindar, ia memelukku erat hampir mematahkan seluruh sendiku.
“Selamat ya Lek, akhirnya kau dapatkan juga pujaan hatimu. jangan pernah kau permainkan dan sakiti hatinya” bisiknya lirih bergetar menahan pilu.
Aku hanya bisa berkata “Kang, keringetmu kecut, mandi dulu geh.”

* * * *

“Maukah kubenamkan kau ke sedalam-dalamnya lembah hatiku? Agar kau bisa selalu damai bertapa di sana tanpa perlu mencari tempat sunyi untuk menyepi. Karena aku belum pernah menemukan bagian tersenyap di muka bumi ini selain di sana. Jadilah penghuni lembah hati senyap ini supaya ia bisa mengenal setidaknya sepercik peradaban cinta.”
Tak kusangka dengan sebuah coretan yang kurangkai di ujung fajar sambil menunggu jama’ah subuh itu mampu meluluhkan hati neng Lub.
Siang itu siang yang mungkin akan sulit kulupakan. Detak jarum jam menunjukkan pukul dua seperempat. Di saat para santri menghempaskan lelahnya di masjid dan kamar masing-masing, aku beranjak menuju koperasi pesantren. Kurelakan tidur siangku untuk memenuhi permintaan sang ratu hati. Langkahku menderap mantab dengan sedikit berjingkrat mengekspresikan kegirangan.
Ah, itu dia neng Lub sudah menunggu di dalam koperasi sembari tersenyum. Tak kusadari ternyata dari tadi ia memperhatikanku. Namun entah kenapa dapat kurasakan senyum itu lebih menyerupai senyum getir bukan senyum karena lucu. Aku jadi salah tingkah. Gugup. Baru pertama kali aku bertatap muka sedekat ini dengannya.
“Assalamu ‘alaikum.” Aku mencoba menyapa duluan.
“Wa’alaikumus salam warahmatuLlah” suara merdunya serasa menusuk kalbu.
Hening sejenak, kemudian kuberanikan diriku menggerakkan bibir lagi
“Emm… ini pesanan neng Lub kemarin. Mohon maaf jika tak seindah seperti yang diinginkan.” Selalu saja aku merasa bodoh dan tolol di hadapannya.
“Terima kasih” jari-jari lentiknya menarik selembar kertas yang kusodorkan di atas kaca etalase. Aku suka sekali cara mengambilnya, lembut dan elegan.
Ia baca sejenak coretanku tadi pagi. Kulihat matanya sayu dan hampir menitikkan air mata.
“Kenapa Neng? Apakah tulisanku berdebu sehingga membuat matamu berair” entah kenapa tiba-tiba pertanyaan konyol seperti itu terlontar begitu saja dari mulutku.
Ia tersenyum dan sekali lagi sangat getir. Ah, aku merasa tambah bersalah.
“Mas Malik…” ah, sekali lagi aku suka cara ia memanggil namaku dengan ejaan ma-lik (bukan ma-lek seperti panggilan teman-teman kepadaku) terasa lebih halus dan renyah di kuping.
“Sebenarnya sungguh aku tak sanggup menolak rasa yang sampean tawarkan. Namun mohon beribu-ribu maaf mas,” suaranya kini semakin tersedu seakan tersumbat di tenggorokan, membuatku semakin kikuk dan khawatir was-was.
“Apa boleh dikata, tadi sebelum shalat zhuhur abah memanggilku. Abah mau menjodohkanku dengan seseeorang yang dahulu pernah menjadi muridnya.” pecah juga isaknya setelah menyelesaikan kalimat ini.
“Apa?” pekikku namun hanya dalam hati. Tak kuasa aku berkata keras di hadapan neng Lub. Su’ul adab (adab tercela) namanya. Baru saja kemarin malam aku tersungkur bersujud syukur kemudian mentraktrir kang Tohar dan Gus Dullah atas hasil jerih payah dan pengorbanan mereka, tapi ternyata sekarang… akh, sekali lagi kuberanikan diri bertanya kepadanya
“Kalau boleh tahu, siapakah gerangan lelaki beruntung yang akan dijodohkan dengan sampean Neng?
Ia diam sejenak, menghela nafas seolah mengumpulkan tenaga untuk menjawab pertanyaanku, kemudian menatapku dalam-dalam dan berkata dengan nada bergetar,
“Ustadz Subki dari Solo, bapak sampean mas.”
Aku tercekat tak mampu berucap walau hanya sekecap. Tanpa kusadari butir-butir air mata yang sudah dari tadi susah payah kubendung kini tumpah membasahi wajah. Sempat kurasakan setetes yang menyelinap ke dalam bibirku. Tahukah kau? Sungguh rasanya tak lagi asin melainkan pahiit sekali.


Semarang, 14052010.
Ibu, selain dan setelah kepada Tuhan,
di saat-saat seperti ini sungguh aku benar-benar merindu
menumpahkan segala keluh kesahku kepadamu.


End notes
1. Tafa’ul diambil dari bahasa arab yang secara istilah santri artinya mengharap mendapatkan sesuatu yang sama dengan yang ditafa’uli. Maka jika tafa’ulnya kepada Neng Lub ini harapannya dapat memiliki anak yang seperti dirinya.
2. Kitab nahwu (gramatika arab) yang berisi 1002 bait. Biasanya menjadi kitab nahwu standar di pesantren-pesantren untuk dikaji dan dihafalkan.
3. Sepenggal kata dari al-Qur’an yang biasanya dijadikan mahabah, menarik hati pasangan. Istilah kasarnya pelet ala pesantren.
4. Gothakan, bhs jawa cara melafalkannya dengan dihilangkan huruf “k”-nya (gota-an). Artinya lemari.

Sabtu, 01 Mei 2010

SMS KEPADA TUHAN


ketika asaku benar-benar telah pupus, kegalauan, ketakutan, keresahan dan kegelisahan bercampur aduk mempermainkan perasaanku, akalku pun sudah tumpul untuk sekedar mencerna walau hanya seklumit analisa, tiba-tiba muncul sekelebat ide gila. karena tak tahu harus berbuat apa, dengan pikiran kacau dan hati berantakan, setengah gila dan iseng kutulis sms ke nomor tujuan yang pada waktu kecil teman-temanku menyebutnya sebagai nomor telepon Tuhan.
kutuliskan kepada-Nya

"TUHAN KAU TAHU YG TAK KUTAHU, MAKA BERI TAHULAH YG TAK KUTAHU DAN YG KAU TAHU DAN BERI TAHULAH MEREKA BAHWA AKU BENAR2 BELUM TAHU. KETAHUILAH BAHWA AKU SUNGGUH INGIN BENAR2 TAHU, SESUNGGUHNYA ENGKAU MAHA TAHU LAGI MENGETAHUI."

setelah beberapa saat menunggu balasan dari-Nya, apakah yang terjadi kawan? kalau kau masih waras pasti sudah tahu jawabnya.

risalah rindu (aforisme status update (part 4))


habis gelap, terang tak terbit-terbit. gelap tak habis-habis menghabiskan terang. terbitlah penghabisan. terangilah kegelapan.
kalau kau benar-benar sudah menolak hadirku, kenapa kau selalu mengusik mimpi-mimpiku? benarkah begitu?
entah seketika diamku memecah keheningan, menerkam senyap hati, mencekam sukma, mendengungkan bising rindu, mendedahkan isi setiap gelombang saraf. sampai tiba-tiba bayangmu muncul secara berkelindan dengan nostalgia monolog memporak-porandakan dan meningkatkan ritme setiap aktivitas penghuni heningku. owh owh... hingga sadarku tak mampu mengejar kecepatan mereka.
130420100106 tertelan tertimbun tersumbat tercerabut terbuai tersentuh tergeletar terjengkang tertawan terperosok terperangkap terpasung terbelenggu terpencil tercekat terlunta termenung terpelanting terdampar terserak terhambur tersadar tanpa sedikitpun me- sama sekali.
mendekatlah, mendekatlah... dengarkan kebisingan hati ini yang dalam kesunyian selalu memekikkan gelisah kerinduan. atau intiplah ia dari nanar mataku agar kau bisa melihat bagaimana tegarnya ia menghadapi badai kecemburuan. jika kau tak mau mendengar atau melihat, maka mendekatlah saja supaya kalbu ini sedikit bisa membasahi dahaga rindunya.
kini mungkin kau takkan lagi pernah sekedar menyapaku. sekedar untuk kau ketahui meski rasanya tak mungkin bisa kau tahu itu, aku akan mengelus dada dan berucap "all iz well, all iz well, all iz well..."
dan saat kau tunjukan semua kelemahan dan kehinaanku. lalu kau pamerkan segala ke-Maha-an-Mu. maka betapa aku ingin tersungkur penuh kemaluan dan penyesalan. bahwa ternyata hanya kecongkakanku semata yang menggelayuti kalbu. sehingga membuat daya yang teramat sangat kerdil sekali ini merasa besar melebihi kekuasaan-Mu. betapa aku ingin menikmati segala keterhinaan ini.
saat tiba-tiba keheningan itu benar-benar sungguh memekakkan telinga, sehingga aku dapat mendengar bahkan setiap bising dengungan gelombang neuron-neuron yang mengalir dari seantero badan ini memusat ke kepala. dengungan itu membuatku bergidik. bunyinya sungguh mirip sekali dengan neraka yang sedang telah ditempa puluhan ribu tahun lamanya.
aku harus membelalakkan diri bahwa sungguh aku ingin memiliki rasa ketakutan akan rasa memiliki dan bangga yang selama ini benar-benar telah menjajah dan mengebiri potensi kebebasan hati ini. ternyata sesungguhnya engkaulah yang layak memiliki dan dibanggakan. bukan aku!!
ternyata untuk melipat bumi tak perlu dengan sapu angin. aku nyaris melintasi berbagai bililk dimensi hingga hampir kujelajahi seluruh benua. cukup memejamkan mata dan kukikis habis alam sadar, hingga aku tersesat dalam rimba-rimba dejavu. kutemui baik yang pernah kujumpai maupun yang sama sekali tak pernah bersua dalam kasunyatan. sungguh betapa nikmat segala keterpelantingan ini.
entah apa jadinya jika sebuah kebenaran menjadi gengsi tak mau bersanding dengan "kesalahan-kesalahan"? entah apakah ia lupa atau belum tahu bahwa ia menjadi benar karena ada yang salah? entah bisakah ia disebut kebenaran bila ia lupa atau belum tahu? entah apa jadinya jika kebenaran menjadi sok suci menjajah najis-najis tak berdaya? entah masihkah dapat disebut kebenaran jika ia menyembah kesombongan? entahlah...
tengoklah terus diriku agar dapat kuhempaskan rindu. tengoklah seperti tadi malam dan siang ini walau tak selama dulu ketika kita bebas bercengkrama. setidaknya sekecap suaramu memuaskan dahaga kering hati ini. tahukah kau? aku rindu mencari uban di kepalamu
bahkan aku seperti tidak bermimpi melihat dan mendengar kembali kau bercakap tentangku tadi malam di ujung sadarku. akh, mengingatmu membuatku mulai merindu kepada kata rindu yang tak kutuliskan baru sehari dari kemarin.
dan diantara tanda-tanda yang kau pamerkan, aku sungguh tak berdaya. logikaku tumpul mengiris walau satu tanda. sementara untuk meraih dzauq aku terengah menggalinya hingga saat aku menyerah terhempas, aku harus puas cukup dengan menggores sedikit misterimu.
"wa ammaa bini'mati rabbika fahaddits". bagaimana aku harus mengabarkan setiap hembus nafas, setiap degup jantung, denyut nadi sementara sepanjang hari aku terus menggenggamkan tangan? bahkan ingat kepada-Nya pun hanya sekelebat detik. astaghfiruLlaah al-'azhim...
sungguh setiap potongan sel di sekujur tubuhku meneriakkan kerinduan kepadamu. dengan kejam mulut-mulut berisik mereka dibungkam oleh kebengisan ego dan kepentingan hasratku. aku merindukan kesejukan setetes air mata agar dapat meluruhkan karat-karat busuk yang menyelimuti hati. supaya sang hati memimpin semua molekul tubuh ini bebas berdemokrasi menyuarakan dzikir tasbihnya.
apabila nanti aku telah lelah merindu aku takut tersesat pada selainmu biarlah tercerabut hati ini jika karena lukanya dapat melanggengkan ingatanku kepadamu, daripada kau sembuhkan rinduku lalu kau lenyapkan kenangan indah bersamamu. karena aku telah tercandu dalam dan oleh ekstase rindu.
ternyata bukan pukulanmu yang membuatku sakit. tapi kebencianmu terhadapku membuat air mata ini tak mau berhenti menitik.
sudahkah kukatakan kepadamu? aku sungguh sangat teramat rinduuuu sekali. kataku sudah habis termakan rindu ternyata ia sangat serakah menguras porsi kata yang tersedia dalam kecil benakku sekian, aku mau kulaan dulu untuk memuaskanmu.
senja... senja itu waktu sebentar sebelum malam menjejakkan kegelapan. senja... burung-burung kembali ke peraduan mensyukuri siang hari mereka senja... tempat menyesalkan pagi bagi para penceroboh waktu senja... hingga sampai senja usiaku aku takkan menyesal menunggumu. aku takkan bertaubat karena rindu kepadamu kuhaturkan sebuah kalimat untuk senjaku "maaf hadirmu tak mengada dalam kamus hidupku"
if you understand... why sunset always reddish its rays be no more fierce and be softer if you understand... you will get the answer of my keeping silent do you understand?
ternyata panas sengat matahari tak mampu meleburkan beku hatiku pun ganasnya deburan angin malam tak kuasa untuk memadamkan kobaran api rinduku. pernahkah kalian menggigil rindu kawan? selimut hati jenis apa yang mampu menghangatkannya?
kwan q mndptkan rmus bru bhwa nlai dn ukran itu dpt dtntukan klau ada pmbandingny. mk hndkny qt brtrmksh kpd pmbnding qt
terkadang kita harus mengabaikan harapan agar dapat ikhlas menerima kenyataan.
tolong ambilkan secarik kertas suci itu...!!! biar kugunakan untuk menampar kesombongan yang meledak dalam hatiku. agar ia sadar bahwa cukup secarik kertas saja sudah bisa membuatnya tersedu.
bila hanya cukup sebilah pedang untuk membunuhku, maka takkan cukup kau gunakan sejuta rudal untuk dapat sekedar menggerogoti rinduku. jika hanya dengan sepatah kata telah mampu mengucilkan nyaliku, maka walaupun kau hadapkan seribu singa takkan menggentarkan semilipun langkahku untuk sekedar mengintipmu.
jika hanya tentang rindu jangan pernah kau ragukan untuk mempertanyakannya padaku aku pasti selalu dan akan terus merindu. tapi jangan pernah juga kau bertanya tentang setia... sungguh sulit aku untuk sekedar menjaganya apalagi mendawamkannya. ohh.. andai bisa kutebus setia itu dengan rinduku...
saat kutitipkan rinduku pada angin ia merasa tak sanggup bahkan untuk sekedar menerpanya. aku berlari ke gunung, gunung pun menolak tak kuasa menahan beratnya. ketika ingin kuhamburkan ke samudra, samudra seolah terbelah karena takut getirnya. sebegitu malangkah rindu ini? kupendam kau sedalam2nya dalam curam jurang kalbuku. meledaklah disana agar porak-poranda segala kegalauan tanpa harus mencemari semesta alam
ketika dua kepentingan, misi dan tujuan saling bertumbukan, dan mereka bersikukuh atas posisinya maka suilt sekali mencapai indahnya kebersamaan. terserah kalian mau apa... aku akan keluar dari medan impuls dan momentum yang kalian ciptakan. aku tak mau membenturkan diri hanya karena beda kepentingan. lebih baik kembali ke masyuk hatiku yang penuh cinta dan kerinduan.
adakah secercah inspirasi menyelinap ke otakku, supaya aku dapat setidaknya merangkai sebuah kalimat untuk kutorehkan sekedar untuk melampiaskan sembelit rindu ini kepadamu
bagaimana jika bumi tempatmu berpijak tak kuasa lagi menopang pijakan lembut kakimu? sementara kau masih dengan gemulai melangkah gontai. bukan tak kuat menahan bebanmu, hanya tak kuasa mereka menahan diri untuk berebut menopang pijakan kakimu. maka pijakkanlah kakimu di sini saja. melangkahlah sepuasmu di lapang hatiku, agar mereka tak bisa berebut jejakmu.
kata-kataku takkan habis hanya untuk memujamu kendati sesungguhnya segala pujian itu pun takkan sanggup menggambarkan kesempurnaanmu. aku hanya akan tercekat jika kau paksa aku untuk memakimu meski aku tak punya walau sepatah kata untuk itu, kecacatanmu pun tak kunjung muncul dalam benakku. baiklah, aku akan mencacimu dengan sanjungan...
kaukah itu? menyelinap tanpa permisi masuk ke gubug hatiku lalu duduk merajai singgasananya sembari mempermainkan kerajaan hatiku kaukah itu? setelah kau ambil sebongkah mutiara cinta dari sana lalu kau menghilang tanpa jejak? kaukah itu? sang pencuri hati? kalau kau mau kembali ke sini akan kuberikan semuanya untukmu. hatiku tak ikhlas kau curi tapi harus kau miliki
kenapa malu bilang "aku tresno sliramu"? apakah "i love you" lebih gagah bagimu? atau mungkin "uhibbuki fillah" lebih mengangkat derajatmu? ketahuilah kawan, saya bertobat untuk mengucapkan "uhibbuki fiLlah" mandat apa yang telah saya terima untuk mengatas namakan Ia? padahal iblis sangat lihai dalam mengaburkan cinta ...sungguh saya bertobat.
maukah kubenamkan kau ke sedalam-dalamnya lembah hatiku? agar kau bisa selalu damai bertapa di sana tanpa perlu kau mencari tempat menyepi karena aku belum pernah menemukan bagian tersenyap di muka bumi ini selain di sana jadilah penghuni lembah hati senyap ini supaya ia bisa mengenal setidaknya sepercik peradaban cinta.
my heart still vibrated since reading her name there is still a pleasant constipation that is suffered by my heart when seeing her face.. oh.. what a brittle my own heart... it's so easy to be fooled by an emotion. yeah.. fool me, fool me again, keep fooling me... I'd like to be fooled by you. a foolish man, am i?
akan kutimbun rinduku dengan segunung kesibukan hingga hati tak mampu lagi menjangkaunya entah jika ia berontak menghentak di tengah sibukku niscaya luluh-lantaklah segunung aktifitas terkacaukan cukup oleh sebenih kerinduan yang meledak terhimpit sesak kepenatan oh.. siapakah yang mampu menjinakkan sebenih rinduku?
a night to remember... how many i spend my time i never almost bring the awareness of you what an immoral i am. a night to remember... what a beautiful you are how i can't describe your affection in every mistakes i did, your love never dry to give me forgiveness a night to remember... i'll always try to remember you...
sungguh aku telah mencapai puncak kegilaan dan ketololanku di tengah gegap gempita pujian bisu mereka dengan lantang aku mencacimu memang gila itu bemacam-macam.
biar remuk redam badan tergilas keras kerja hati tersayat oleh ucapan-ucapan sumbang upah tak sepadan dengan apa yang telah dikerjakan dengan tersenyum kau berikan uangmu kepadaku "biarlah kugadaikan semuanya untuknya" katamu
kuhampiri kau dengan segunung kerinduan kutumpahkan air mata dari mata gersang sang pendosa kita bercengkrama seperti dulu saat kau masih bersamaku ku memperlakukanmu sangat berbeda dari yang dulu pernah kulakukan sebersit memori lenyap dari ingatanmu aku pun tak mau mengungkap bahwa kau pernah berpisah dariku karena a...ku yakin selalu kita memang tak pernah berpisah ya seringlah berkunjung.. aku selalu merindukanmu.
aku sengaja bermain lumpur kubiarkan badanku begelimang dalam kubangan lumpur itu tak kuhiraukan kau menatapku tajam meski kutahu, gerak-geriku tak luput dari pengawasanmu aku hanya ingin setelah puas bermain lumpur, kau akan memandikanku dalam telaga segarmu kau bilas tubuhku dengan lembut tangan kasihmu. entah jika kau telah berubah kejam mungkin aku harus rela kau kuliti dengan api murkamu.
melihat mereka bersliweran masuk rumahmu timbul hasratku tuk sekedar mengintip apa dayaku kau sudah memblokirku bahkan dari sekedar tamu sebenarnya aku bisa mengirim kepadamu sepucuk surat aku takut malah membuatmu terganggu baiklah aku harus rela memuaskan diriku hanya dengan melihatmu dari kejauhan menyambut para pengunjungmu datang.
kenapa kau hanya diam membisu? ku kira itu bukan kau sungguh aku rindu suaramu. suara tanpa kebohongan. suara penuh keikhlasan. kendati tanpa penghantar, suaramu kan masih menghentak, tak perlu udara, kabel, fiber ataupun cyber, suaramu kan terngiang selalu di gendang telingaku dan takkan berhenti menggema dalam senyap tuliku. akan kurekam suara abadimu dalam pita kaset hidupku.
apakah aku mengidap sebuah kesintingan baru jika aku senang melihat orang lain bercinta denganmu? sungguh aku menikmati setiap adegan yang ia lakukan bersamamu. tak sedikitpun ada cemburu, bahkan menantangku untuk melakukanya beramai-ramai kepadamu. jangan salahkan kami, pesonamu membuat kami tak kuasa menahan hasrat untuk memperkosamu. "kemarilah kalian semua... aku rela kalian perkosa" sahutmu.
aku menyesal telah mengotori cinta dan namamu dengan ceroboh kataku hingga jika kau timpakan atasku hukuman kesendirian aku tak berhak menolaknya biarlah aku terkutuk asal dengan cintamu kutuklah aku dengan cinta
aku memberondongnya dengan seribu pertanyaan "............apa guna telinga jika sudah mendengar apa guna mata jika sudah melihat apa guna kata jika sudah faham apa guna makan jika sudah kenyang apa guna puasa jika sudah lapar apa guna mendekat jika sudah menyatu?" lalu dia balik bertanya "lantas apakah kau ini berguna?"
Remind me to forget you. my mind was filled by image of you. Memories about you will not go away. I'll try every day without you i can stay see.. i will try not to talk about you not to think of you to have freedom from you hey, what the fucking i said? Remind me to forget you....
kusandarkan asaku pada rapuh hatimu biarlah ia merubuhkanmu sekaligus atau hilang asaku tertimbun janji tertiup waktu.
bilamanakah engkau merindu? apakah jika kau telah bosan merapal namaku? maka kau mejelmakannya lalu kau ajak ia bercinta? sungguh untuk menikmati rindu itu butuh kesabaran. niscaya kau dapat merasakan betapa nikmatnya setiap tusukan rindu itu menghujam kalbu. dan tak usah bertemu.