Pages

Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juli 2015

Wama Fauqaha



mencintaimu kasih adalah kerendah-hatian
di antara kemeriahan pesta
akulah jam dinding kecil
lirih berdetak tanpa hentak
agar tak membuat berisik musik-musik

kangen padamu sayang adalah mencumbui sunyi
di antara keriuhan kata-kata
akulah airmata dalam hening doa
hasrat harapan yang hingar bingar
harus kuredam dalam diam

aku tidak sedang berkorban, cinta
sebagaimana gula dalam kopi yang kau seduh
bagaimana mungkin bersatu jika menolak luruh
segala derita tiba-tiba sirna

karena cinta adalah anugrah
sungguh semua mendadak indah

betapa sebenarnya aku ini jembut
di antara rambut-rambut
walau cuma sejumput
namun sering kau elus lembut

seperti majnun menciumi dinding-dinding kediaman laila
kerinduan tak mengenal berhala
apa saja mengenaimu kasih
bagiku laksana semesta tasbih


Senin, 15 Juni 2015

Jendela Kamar



Rintik hujan yang menciumi jendela
Taktik taktik mengetuk hati yang tak berkutik
ngengat dipermukaannya
entah bodoh atau buta
sayapnya berisik
mengutuki kaca
krakkrik krakkrik

bila dunia adalah semesta rintang
aku kah serangga yang tersesat
jendela kaca bukanlah sekat sayang
ketololan yang congkak lah
penyebab hijab berlipat-lipat

seperti jarik drupadi yang dilucuti
keindahanmu tak kunjung habis kutelanjangi
walau berbagai jenjang pengetahuan telah tergapai
masih saja kebenaran punya ratusan tirai

dalam sunyi keheningan memekak
hingga kesepuluh kepala dasamuka meledak
duhai kasih, kian kau kupelajari
kenapa kau semakin tak kumengerti?

sayang, aku ingin menjadi jendela kamar
saat melihat matahari tenggelam
padaku kamu besandar
ketika malam telah meremang
biar aku menjelma bantal

merasuki mimpimu yang binal

Jumat, 09 Mei 2014

Tembang Sangkan Paraning Dumadi

oleh: warih firdausi



لا اله الا الله الملك الحق المبين
محمد رسول الله صادق الوعد الامين

ileng-ileng sira menungsa
sangka apa sliramu ana
uripmu kanggone apa
menyang endi sakwuse seda

sangka banyu ingkang ina
didadekke makhluk paling mulya
disugati nikmate ndunya
banjur syukur apa kufur ira

banting tulang anggonmu kerja
eman-eman gur golek donya
diniati ditirakati
kanggo sangu mbesok bali

dunya ibarat jembatan
dalan nuju alam kelanggengan
mula aja digondeli
merga ora digawa mati

sugih mlarat rakyat pejabat
kabeh kui sak derajat
mungguh allah sing paling mulya
namung wong kang paling takwa

lirkadya godhong sing keli
sira mili ing titahe gusti
sing sabar syukur semeleh
insya allah atine sugeh.

Pengakuan Abu Nawas



إلهي لست للفردوس أهلا
و لا أقوى على نار الجحيم
فهب لي توبة و اغفر ذنوبي
فإنك غافر الذنب العظيم

Ya Allah Gusti kula sanes ahli swarga
Nanging kula mboten kiat teng neraka
Milo paringana kula pangapura
Namung Panjenengan kang nglebur dosa-dosa

Tuhan hamba bukanlah penghuni surga
Namun ku tak tahan siksaan neraka
Maka ampunilah dosa-dosa hamba
Hanya Engkaulah Maha Pelebur dosa

ذنوبي مثل أعداد الرمال
فهب لي توبة يا ذا الجلال
و عمري ناقص في كل يوم
و ذنبي زائد كبف احتمالي

Dosa-dosa kula lirkadya wedi
Mugi tobat kula Panjenengan tampi
Umur kula saya cedak maring pati
Dosa kula mundak lajeng kados pundi

Dosaku sebanyak debu padang pasir
Trimalah taubatku sebelum berakhir
Usiaku berkurang di setiap nafas
Dosaku berkubang sanggupkah hamba kuras

إلهي عبدك العاصي آتاك
مقرا بالذنوب و قد دعاك
و إن تغفر فأنت لذاك أهل
و إن تطرد فمن يرجو سواك

Gusti dalem sowan madep kanthi ndredhek
Mbeta kelepatan ingkang kathah sanget
Menawi sowan kula Panjenengan tundung
Maring sinten meleh kula nyuwun tulung

Tuhan ku menghadap berlumur maksiat
Kuketuk pintumu mengharap rahmat
Jika Kau tak berkenan memberi maaf
Pada siapa lagi hamba kan berharap

Benang Kembali Tersulam



namaku kamu panggil sambil menggigil
aku tak kunjung datang
matahari dan rembulan telah terpisah
dan berjumpa hingga beberapa hitungan

bukan tentang pukulan ikat pinggang
atau sabetan air sekaligus gayungnya
sakitku rumit sekali
mungkin hatimu lebih sakit lagi
tentang hubungan yang sulit difahami

sampai aku sadar
daun gugur tak mengenal umur
sebelum waktu tak sanggup kita hisap lagi
selagi alibi-alibi tak mau mampir di hati
sekarang aku pulang
dengan semua yang hilang
dari potongan-potongan masa silam

walau akhirnya kau dan aku bertemu
namun gemetar ini sama-sama kita peram
dalam diam

21032014

Senin, 13 Mei 2013

Karena Malam Tak Mesti Kelam


karena malam tengah melarutkan hingar bingar
dalam keheningan
ia terpaku di ujung-pangkal hari
mengeja rasa apa yang tertinggal di hati
ia ingin menggulung kembali detak jarum jam
ribuan tanggal yang terlewat hadir di genggaman
saat momen setelapak tangan menampar gemas pipinya
ia ingin mengikat waktu agar tak buru-buru berlalu

"ih kamu nakal..."
"biar, aku senang kamu tampar."

namun sekejap kenangan tak sanggup lama ia tahan
detak jam kembali terulur panjang
hingga tinggal ribuan detik berjarak dari sekarang
ia tahan sebentar peristiwa tadi petang
untuk tidak segera beranjak dari benak
ketika kedua tangan saling bersentuhan
ah rasanya pipinya masih tertinggal di sana
tapi telapak tangan itu tak akan lagi menyentuh pipi
jari manisnya baru saja dilingkari perjanjian
walau jam sudah berbentuk digital
tetap saja waktu tak bisa diinstall ulang

karena malam tengah membuka pintu rahasianya
biarlah kuketuk dengan doa

Tuhan kutuklah sepi menjadi peri
supaya kepak sayapnya membuat diri menari
agar duka tak jadi luka
meski masing saling jauh
kaki pun tak lagi saling mengayuh
biarlah roda cinta tetap berjalan
walau mesti dengan kereta yang berlainan

Tuhan berkahilah kedua-duanya
dua mempelai dan dua yang tercerai
sempurnakan kebahagiaan mereka

jika setiap kita adalah serpihan pasir
dan waktu terus mengalir
niscaya di antara kita ada yang tersapu angin
atau terhanyut oleh air
namun yang tergerus dari gugusan debu
nanti kan terganti dengan endapan baru

karena malam telah tergelincir ke sepertiga terakhir
biar kutuntaskan kantukku yang sempat terusir

Semarang, 02-03.04.2013


[antara] aku [dan] iblis






kata siapa iblis itu tak kasat mata?
aku melihatnya keluar dari rumah-rumah
membanjiri jalanan
masuk-keluar gedung-gedung
menyebrangi perairan
sampai blusukan ke hutan-hutan
suaranya dapat merambat melalui kawat
kicauannya bisa memenuhi udara

kata siapa iblis itu berupa seram?
kulihat muka manisnya menitis ke artis-artis televisi
mengingatkanku bahwa dunia itu panggung sandiwara
dimana dusta dan kebohongan adalah keniscayaan

kata siapa iblis itu bertanduk?
dia datang padaku kepalanya berpeci
mengajarkan kepadaku akan kebenaran hakiki
bahwa kesesatan adalah setan yang musti dibasmi

siapa bilang iblis itu takut lantunan kitab suci?
itu mitologi
justru dia membacanya secara fasih sekali
bahkan tiap ayat dia mengerti artinya
sehingga dia berpesan kepadaku
penggal kepala siapa pun yang memaknainya keliru

siapa bilang iblis itu jahat?
kujumpai dia teramat baik hati
begitu baiknya dia sehingga berani memimpin negara ini
ia rela panen tanah-airnya diunduh berbagai negeri
malah ia utus rakyatnya ke seluruh penjuru dunia
sebagai pembantu suka-rela

siapa bilang iblis itu pembenci?
cintanya pada Tuhan tak terperi
sehingga ia rela dijadikan antagonis semesta
sampai kiamat tiba

apakah kalian ingin bertemu iblis?
kalau mau
dengar kata saya
jangan bilang siapa-siapa

masuklah rumah masing-masing
cari tempat yang tak ada seorang pun melihat
tutup pintu rapat-rapat
berdirilah di depan cermin
lihat bayangan di dalamnya
adakah api keangkuhan berkobar di dadanya?
adakah taring keserakahan bersarang di mulutnya?
adakah tanduk kelicikan menancap di kepalanya?

jika yang engkau lihat hanya dirimu
sempurna sekali iblis menjelma dalam tubuhmu

namun bila cerminmu kosong
tak ada apa pun yang kamu lihat di sana
nikmatilah...
kamu sedang memandang jelita wajah Tuhan

Semarang, 05042013

Rindu, Hujan dan Rumah






sebab siang seredup petang
dia ingin mencumbu langit
ia kayuh sepeda tuanya
roda-roda mengukir kenangan di genang air
segala rindu ingin segera tumpah
rindu hujan pada tanah
rindunya kepada rumah

sabarlah sebentar sayang
siomai suamimu baru saja habis terjual
biar kusisir rambut panjang hujan
rebuslah air dan tanaklah nasi
nanti kita makan saling suap
lalu mandi saling usap

di sungai lalu lintas
mesin-mesin mengalir deras
sepeda tua terus melaju memburu rindu
dahan dan ranting melambai-lambai
menjelma helai rambut istrinya
cepatlah pulang sayang

sebab siang seredup petang
dia ingin merayu hujan
segala resah sesakkan dada
ia lihat kampung di bawah jembatan yang dilaluinya
lidah air tengah menjilati rumah-rumah

sebab siang seredup petang
dia ingin segera sampai rumah

Semarang, 01042013