إلهي لست للفردوس أهلا و لا أقوى على نار الجحيم فهب لي توبة و اغفر ذنوبي فإنك غافر الذنب العظيم Ya Allah Gusti kula sanes ahli swarga Nanging kula mboten kiat teng neraka Milo paringana kula pangapura Namung Panjenengan kang nglebur dosa-dosa
Tuhan hamba bukanlah penghuni surga Namun ku tak tahan siksaan neraka Maka ampunilah dosa-dosa hamba Hanya Engkaulah Maha Pelebur dosa
ذنوبي مثل أعداد الرمال فهب لي توبة يا ذا الجلال و عمري ناقص في كل يوم و ذنبي زائد كبف احتمالي
Dosa-dosa kula lirkadya wedi Mugi tobat kula Panjenengan tampi Umur kula saya cedak maring pati Dosa kula mundak lajeng kados pundi
Dosaku sebanyak debu padang pasir Trimalah taubatku sebelum berakhir Usiaku berkurang di setiap nafas Dosaku berkubang sanggupkah hamba kuras
إلهي عبدك العاصي آتاك مقرا بالذنوب و قد دعاك و إن تغفر فأنت لذاك أهل و إن تطرد فمن يرجو سواك
Gusti dalem sowan madep kanthi ndredhek Mbeta kelepatan ingkang kathah sanget Menawi sowan kula Panjenengan tundung Maring sinten meleh kula nyuwun tulung
Tuhan ku menghadap berlumur maksiat Kuketuk pintumu mengharap rahmat Jika Kau tak berkenan memberi maaf Pada siapa lagi hamba kan berharap
Mungkin tidak mudah memaafkan
orang yang membenci kita. Tetapi memaafkan
orang yang kita benci. lebih sulit lagi. Ketika kita mampu
melampaui keduanya, maka datanglah kedamaian sejati. Dimana hati tak lagi terisi dengki dan benci. Di mana hari-hari penuh cinta mewarna-warni. Memaafkan adalah kunci utama dalam membangun kedamaian. Demikian makna yang saya cerna dari single terbaru Letto bertajuk "Kedamaian Sejati" yang dirilis 1 Juli 2013. Masih menjadi ciri khas Letto; menyajikan lirik yang mengajak kita berkontemplasi tanpa diksi yang menggurui. enjoy....
Awal saya menegenal nama Cak
Nun ( Emha Ainun Nadjib ) adalah ketika saya duduk di bangku MI (tepatnya
kelas berapa saya lupa). Waktu itu, bapak membeli kaset tape yang berisi musik Kyai
Kanjeng . Pertama kali mendengarnya, telinga saya merasa bising. Iki
musik cap apa? kok mbrebeki kuping. Untung saya belum kenal kata diancuuk.
Lalu saya sering melihatnya di televisi memberi petuah-petuah tentang kenegaraan.
Entah mungkin karena kualat, saya mulai menggemari dia saat pertama kali
bersentuhan dengan bukunya yang berjudul "Slilit
Sang Kyai" yang saya
temukan di perpus sekolah MA
NU RAUDLATUL MUALLIMIN WEDUNG . Edan tenan orang ini, dia bisa mengemas
tulisan yang seringkali berat dengan bahasa yang sangat nakal. Sepulang ke rumah saya cari kaset yang dibeli bapak beberapa tahun yang lalu.
Sayangnya tidak ketemu. Akhirnya kerinduan saya terlampiaskan setelah
berkenalan dengan internet. Saya bisa mendownload lagu-lagunya,
tulisan-tulisannya, dan ceramah-ceramahnya.
Yang saya kagumi dari Cak Nun bukan saja pemikiran dan humornya, terlebih
lelaku hidupnya yang konsisten. Berbagai gelar dan julukan disematkan padanya.
Kyai, sastrawan, budayawan, pemikir, tokoh reformasi. Tapi Cak Nun tidak peduli
semua sebutan-sebutan itu. Dia hanya nyaman sebagai manusia biasa. Dia mampu
menjadi manusia seutuhnya di tengah-tengah banyak orang yang karena
kedudukannya menjadi kehilangan kemanusiaannya. Kalau sudah menjadi kyai tak
mau lagi nongkrong di warung kopi. Sudah menjadi pejabat malu kalau tidak
pakai jas berdasi. Emha tak segan berkaos oblong, tak sungkan lungguh
lesehan berjam-berjam bersama rakyat merayakan kemanuisaan. dia tak terusik
dengan pujian dan makian yang dialamatkan padanya karena dia sudah memuji dan
memaki-maki dirinya sendiri.
Namun kini, beliau sepertinya sudah mengundurkan diri dari gemerlap media. Dia
meneguhkan lelaku hidupnya yang tercermin dalam puisinya yang kemudian
dijadikan lagu berjudul “Jalan Sunyi.”
Dalam tulisan ini saya tidak menafsirkan lirik lagunya. Saya hanya berusaha
memahami dan menyimpulkan puisinya berdasarkan tulisan-tulisan dan
ceramah-ceramah yang pernah saya baca dan saya dengar.
Jalan sunyi
Akhirnya kutempuh/ jalan yang sunyi mendendangkan lagu bisu/ sendiri di
lubuk hati/ puisi yang kusembunyikan dari kata-kata/ cinta yang takkan
kutemukan bentuknya
kalau memang tak bisa engkau temukan wilayahku/ biarlah aku yang terus berusaha
mengetuk pintu rumahmu/ kalau memang tak sedia engkau menatap wajahku/ biarlah
para kekasih rahasia allah yang mengusap-usap kepalaku
mungkin engkau memerlukan darahku untuk melepas dahagamu/ Mungkin engkau butuh
kematianku untuk menegakkan hidupmu/ Ambilah ambillah... akan kumintakan izin
kepada Allah yang memilikinya/ Sebab toh bukan diriku ini yang kuinginkan dan
kurindukan
-------------
Akhirnya kutempuh/ jalan yang sunyi mendendangkan lagu bisu/ sendiri di
lubuk hati/ puisi yang kusembunyikan dari kata-kata/ cinta yang takkan
kutemukan bentuknya
Sepertinya lirik ini menceritakan keputus-asaan seseorang menghadapi kehidupan
duniawi. Baik yang telah mendapatkan dan merasakan seluruh gemerlap
kenikmatannya, atau pun yang gagal, tidak mampu mencapainya. Bagi yang sudah
pernah merasakan segala kenikmatan dunia, dunia ini terasa membosankan.
Kekayaan, kemasyhuran, segala keberlimpahan tak mampu membuatnya bahagia.
Akhirnya dia tahu borok-borok dunia. Orang-orang yang memujinya tak sepenuhnya
tulus, mereka menyimpan kepentingan. Dia hanya dijadikan alat pemuas nafsu
mereka. Bagi yang gagal mencapainya, dia kecewa, ternyata dunia selalu
menipunya. Semua usahanya tak dihargai, karyanya tak diakui, cintanya tak
pernah diterima. Hanya duka dan luka yang ia derita. Akhirnya dia memilih
menempuh jalan sunyi. Jalan yang jarang dilalui kebanyakan orang. Jalan sejati.
Jalan untuk lebih mengenal dan akrab dengan yang inti, yang hakiki. Jalan
ilahi.
Jalan sunyi itu seperti lelaku puasa. Melawan mainstream. Ada makanan tak
dimakan. Ada minuman tak diminum. Ada banyak wanita hanya satu yang dipilih.
Ada kursi tak diduduki. Ada kekuasaan tak dijabat. bernyanyi tak berbunyi,
menangis tak didengarkan, menjerit tak diperhatikan. berkarya tak dihargai, ada
tak diakui, mencintai malah dibenci, hadir tak pernah menjadi. Kita tahan dan
tangguhkan semua itu demi menuju Makan sejati.
kalau memang tak bisa engkau temukan wilayahku/ biarlah aku yang terus
berusaha mengetuk pintu rumahmu/ kalau memang tak sedia engkau menatap wajahku/
biarlah para kekasih rahasia allah yang mengusap-usap kepalaku
Bait ini adalah ungkapan kekecewaan kepada dunia. Penyairnya seolah-olah
berkata kepada dunia, “wahai dunia kalau memang engkau tak mampu menemukan arti
kehadiranku. Engkau tak bisa mengerti dan memahami usahaku untukmu, tidak
apa-apa. tak mengapa, tidak masalah bagiku. Biarlah aku saja yang terus menghormatimu,
terus melayanimu, terus mempelajarimu. Bahkan kalau pun engkau sebenarnya sudah
mengetahui arti kehadiranku, tapi engkau tetap tak bersedia menghormati dan
menghargai semua yang kulakukan untukmu, biarlah, biarlah. Aku tidak peduli,
nothing to lose. Aku Rak Pethe’en. Biarlah Tuhan dan kekasih-Nya yang selalu
menyayangiku, selalu memanjakan diriku, selalu menuntun jalanku.”
Dalam bahasa Sayyidina
Ali Bin Abi Thalib“ya dunya ghurri ghairi laqad thallaqtuki tsalatsan.” Wahai dunia,
rayulah selain aku, sungguh aku sudah jatuhkan talak tiga kepadamu. Namun kita
tak perlu se-ekstrim itu, kita ganti saja berkata, wahai dunia aku mencintai
gemerlap kenikmatanmu. Tapi jangan harap kamu menjadi pengantinku. Karena kamu
hanyalah jembatan yang mengantarkanku kepada pengantin yang sejati, dia yang
inti, yang hakiki. Dunia jangan kita masukkan dalam hati. Kalau dunia kita
biarkan bersemayam dalam hati, dia akan jadi raja dan kita menjadi budaknya.
Taruh dia di tangan kita, maka kita akan dengan mudah mempermainkannya.
Mungkin engkau memerlukan darahku untuk melepas dahagamu/ Mungkin engkau
butuh kematianku untuk menegakkan hidupmu/ Ambilah ambillah... akan kumintakan
izin kepada Allah yang memilikinya/ Sebab toh bukan diriku ini yang kuinginkan
dan kurindukan
Mungkin kehidupan duniawi ini memang selalu menipu. Al-Qur’an sendiri telah
memperingatkan, wamal hayatud dunya illa mata’ul-ghurur. Kehidupan dunia
itu tiada lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Dia selalu memanfaatkan
kita. Sepertinya tangan lembutnya mengusap-usap, padahal dia mencabik-cabik
dengan kukunya. Seolah-olah dia memeluk kita, tapi sekaligus menggigit leher
kita. Kelihatannya dia mengulurkan bantuan ternyata untuk meraih keuntungan
pribadi yang lebih besar. Namun sang penyair berkata biarlah, karena aku sudah
menempuh jalan sunyi, engkau mau apa dariku, ambillah, engkau mau emas freeport
silahkan habiskan, kamu ingin reog ponorogo, silahkan dipatenkan. Kalian pingin
pulau ambalat, silahkan caplok, kita masih punya ribuan pulau lagi. Kamu
pingin menang piala AFF, sak karepmu, kita memang sedang berpuasa juara,
buat apa menang kalau melukai hati yang kalah. Kita orang jawa punya slogan menang
tanpo ngasorake (menang tanpa merendahkan yang lain). Kamu ingin minyak dan
seluruh hasil bumi Indonesia, mangga disedot gan... Tidak apa, bangsa
kita kan punya kesadaran tasawuf tingkat tinggi. Memang sangat tipis bedanya
antara jadi orang sufi dan orang sableng. Makanya ada seorang sufi yang
dijulkuki majnun (si gila).
Lirik ini senada dengan yang dikatakan Mawlana
Jalal ad-Din Rumi “Take away what i want. Take away what i do, Take away
what i need. Take away everything what take me from you. Ambillah apa yang
kuinginkan, ambillah [hasil] yang kulakukan, ambillah yang kubutuhkan, ambillah
semua yang mengambilku darimu. Ambillah semua yang menjauhkanku darimu.
Kalau sudah mampu bersikap demikian kita akan sampai pada yang dikatakan Bayazid
Bastami بايزيد بسطامى “when he without all, he with all.” Ketika seseorang
sudah tanpa apa-apa, dia punya segalanya. Kita tak lagi merasa memiliki dan
kehilangan, walaupun semua datang dan pergi dari kita. Apanya yang hilang kalau
kita tidak [merasa] memiliki apa-apa. Bahkan kita tidak memiliki diri kita
sendiri. Bukankah semua ini milik-Nya, bukankah semua yang melekat pada kita
hanya titipan saja?
#tulisan yang pernah disampaikan dalam diskusi bersama remaja Ukrimat
Masjid Sekayu, Semarang Tengah.
Menurut saya letto
adalah salah satu dari sedikit band Indonesia yang punya idealisme.
Pemilihan nama letto tidak dimaksudkan merujuk pada arti apapun. Letto
adalah kata yang tidak punya arti/ makna. Pemilihan nama tanpa
makna merupakan langkah tidak populer dalam arus mainstream. Letto mendekosntruksi tatanan
nama dan makna. Dimana makna menjadi logosentrisme dari sebuah nama.
Letto tidak memilih nama berdasarkan kata yang sudah terdefinisi. Para
personilnya justru ingin membuat makna Letto dengan apa yang mereka
lakukan. Singkatnya, Letto berarti apa dan bagaimana mereka berkreasi.
Dalam kesempatan kali ini saya hanya mencoba menafsirkan lirik lagu
sandaran hati. Saya tidak membahas kualitas musikalitas mereka, karena
saya belum paham musik :). Menariknya, penulis lirik lagunya (Sabrang
Mowo Damar Panuluh/ Noe) tidak ingin memonopoli makna atas lagunya.
Dia membebaskan setiap penikmat lagu memberi arti berdasarkan
pengalamannya sendiri. Hal ini mengingatkan saya pada pemikiran para
filosof postmodern, seperti Heidegger dan Derrida. “Matinya” sang
pengarang (author) menjadi trend baru dalam memahami teks.
Sandaran Hati:
Yakinkah ku berdiri/ Di hampa tanpa tepi/ Bolehkah aku/ Mendengarmu Terkubur dalam emosi/ Tanpa bisa bersembunyi/ Aku dan nafasku/ Merindukanmu Terpuruk ku di sini/ Teraniaya sepi/ Dan ku tahu pasti/ Kau menemani/ Dalam hidupku/ Kesendirianku
Teringat ku teringat/ Pada janjimu ku terikat/ Hanya sekejap ku berdiri/ Kulakukan sepenuh hati/ Peduli ku peduli/ Siang dan malam yang berganti/ Sedihku ini tak ada arti/ Jika kaulah sandatan hati/ Kaulah sandaran hati/ Sandaran hati
Inikah yang kau mau/ Benarkah ini jalanmu/ Hanyalah engkau yang ku tuju/ Pegang erat tanganku/ Bimbing langkah kakiku/ Aku hilang arah/ Tanpa hadirmu/ Dalam gelapnya/ Malam hariku
Teringat ku teringat/ Pada janjimu ku terikat/ Hanya sekejap ku berdiri/ Kulakukan sepenuh hati/ Peduli ku peduli/ Siang dan malam yang berganti/ Sedihku ini tak ada arti/ Jika kaulah sandatan hati/ Kaulah sandaran hati/ Sandaran hati
-----
Yakinkah ku berdiri/ Di hampa tanpa tepi/ Bolehkah aku/ Mendengarmu Terkubur dalam emosi/ Tanpa bisa bersembunyi/ Aku dan nafasku/ Merindukanmu Terpuruk ku di sini/ Teraniaya sepi/ Dan ku tahu pasti/ Kau menemani/ Dalam hidupku/ Kesendirianku
Lirik ini mengajak kita mempertanyakan keberadaan diri.
Mempertanyakan menjadi jurus jitu dalam hal menanam gagasan. Pendengar
tidak disuguhi bahasa yang langsung jadi. Dia harus mengolahnya lagi
melalui kontemplasi. Dimanakah kita saat ini? Dalam filsafat emanasi,
ruang dan waktu adalah mutlak. Segala sesuatu bereksistensi dalam
keduanya. Ukuran adalah keterbatasan manusia memahami fenomena. Lirik
ini tidak memaksa kita mempercayai emanasi, justru mengajak kita
mempertanyakannya kembali. Benarkah kita dalam hampa yang tak bertepi? Lalu
dimana engkau Tuhan, asal segala kejadian, sebab setiap akibat?
Bolehkah aku mendengar [kabar] tentang-Mu? Terkubur dalam emosi/ Tanpa bisa bersembunyi/ Aku dan nafasku/ Merindukanmu....
Menghadapi realitas kehidupan, berbagai perasaan seperti senang,
sedih, gembira, takut, cemas, galau mengisi hati silih berganti.
Seringkali kita tak mampu mengendalikan semua emosi itu. Kita terkadang
merasa ingin lepas dari segala kepenatan itu. Namun, adalah kepastian
bahwa kita terlahir di dunia dibekali dengan emosi (perasaan). Kita tak
bisa bersembunyi menghindarinya. Di saat seperti inilah betapa setiap
kerinduan membuncah kepada Dia yang selalu memberi ketentraman. Terpuruk ku di sini/ Teraniaya sepi/ Dan ku tahu pasti/ Kau menemani/ Dalam hidupku/ Kesendirianku.
Dalam keterpurukan kita mengarungi kehidupan, dimana sebagian besar
manusia memilih menghalalkan segala cara demi memperturutkan nafsunya,
kesepian-lah yang kita tempuh karena memilih berjalan sesuai aturan-Nya.
Namun yakinlah, selama kita berada dalam jalan-Nya, Dia selalu menemani
kita di setiap kita melangkah.
Teringat ku teringat/ Pada janjimu ku terikat/ Hanya sekejap ku berdiri/ Kulakukan sepenuh hati/ Peduli ku peduli/ Siang dan malam yang berganti/ Sedihku ini tak ada arti/ Jika kaulah sandaran hati/ Kaulah sandaran hati/ Sandaran hati
Pada zaman azali, Tuhan meminta persaksian diri “alastu birabbikum
(bukankah Aku ini Tuhanmu)?” kita bersama semua manusia serentak
menjawab “iya.” Bukankah itu berarti kita sudah terikat perjanjian
dengan Tuhan? Berjanji untuk mengakui Dia sebagai satu-satunya tujuan,
sebagai satu-satunya yang berkuasa. Dunia sekedar jalan yang kita
tempuh, yang meski sebentar harus tetap kita lalui dan lampaui dengan
sungguh-sungguh. Apalah artinya penderitaan jika hati telah bersandar
hanya kepada-Nya yang akan menebus setiap sedih dengan segala kasih.
Inikah yang kau mau/ Benarkah ini jalanmu/ Hanyalah engkau yang ku tuju/ Pegang erat tanganku/ Bimbing langkah kakiku/ Aku hilang arah/ Tanpa hadirmu/ Dalam gelapnya/ Malam hariku
Dalam lirik ini terdapat pembedaan antara mau (kehendak) dan jalan. Kehendak Allah, menurut Ibnu Arabi terbagi menjadi dua: amr tawqify, amr taklify.
yang pertama adalah perintah (baca: kehendak) Allah yang telah dia
tetapkan sejak zaman azali berkaitan dengan hukum alam yang kemudian
dalam istilah arab kita sebut sunnatullah. contoh Allah membuat
setiap makhluk itu berpasang-pasangan. ada baik ada buruk, ada iman ada
kufur, ada aksi dan reaksi. Yang kedua adalah kehendak (perintah) Allah
yang dibebankan kepada manusia melalui nabi-nabi-Nya. Kehendak Allah
ini sering juga disebut dengan syari'at-Allah. Dan amr taklify inilah berkonsekuensi pahala dan dosa.
Dalam al-Qur'an terdapat ayat “walillahi yasjudu man fis-samawati wal-ardhi thaw'an wa karhan wa zhilaa-luhum bil-ghuduwwi wal-ashaal.”
ini artinya semua ciptaan Tuhan bersujud kepada-Nya dengan ta'at
ataupun terpaksa. Jadi walaupun orang kafir menentang Allah dan tidak
mau tunduk dalam syari'at-Nya, sebenarnya dia tunduk patuh kepada
perintah Allah yang pertama (amr tawqify). Sebagai orang yang
mengaku beriman, kita harus tawakkal berserah dan memasrahkan diri
menuju pada jalan Allah yang kedua (hanyalah engkau yang ku tuju).
Pasrah pada syari'at-Nya. Bukan sekedar pasrah pada hukum alam (amr tawqify)
Jika sudah demikian maka berkenanlah cinta Tuhan jatuh kepadanya seperti disebutkan dalam hadits qudsi, “fa-idzaa
ahbabtuhu kuntu sam’ahu alladzi yasma’u bihi kuntu ‘ainahu allati
yubshiru biha kuntu lisaanahu alladzi yanthiqu bihi kuntu rijlahu allati
yabthisyu biha.” Ketika Aku sudah mencintainya, maka telinganya adalah telngakku, matanya mataku, lidahnya lidahku, kakinya kakiku.
Tanpa hadirnya Tuhan dalam jiwa, bagaimana bisa kita berada dan
mengada? Apa yang tidak mengabarkan tentang Dia? Setiap gerak adalah
energi dari pancaran quwwah-Nya. La haula wala quwwata illa billah. Maka
absennya Tuhan dalam kehidupan diibaratkan gelapnya malam. Karena Dial
ah yang menerangi setiap sudut langit dan bumi. Allahu nurus-samawati wal-ardhi...
Ketika engkau sudah pasrah total, maka kehendakmu sendiri lenyap,
aku-mu hilang. semua menyatu dalam kehendak dan keakuannya. seperti daun
yang hanyut di alir air, daun itu memang tampak bergerak tapi gerak
sejati adalah gerak aliran air. daun tak mampu bergerak tanpa didorong
oleh arus air. Maka tawakkal sejati adalah pasrah ber-Tawhid kepada-Nya.
Teringat ku teringat/ Pada janjimu ku terikat/ Hanya sekejap ku berdiri/ Kulakukan sepenuh hati/ Peduli ku peduli/ Siang dan malam yang berganti/ Sedihku ini tak ada arti/ Jika kaulah sandatan hati/ Kaulah sandaran hati/ Sandaran hati
Siapakah sandaran hati kita selama ini?
"ketika kau terus mencari tetapi tak kunjung ketemu. Kalau kau telah
lelah berusaha namun berhasil nihil. jika kau senantiasa berdoa dan
merasa tak pernah dikabulkan. Kau pun sudah tabah menahan derita
berkepanjangan. Pasrahlah. seperti pasrahnya dawai yang dipetik, seperti
seruling yang ditiup, seperti biola yang digesek, seperti drum yang
digebuk. Lalu dengarlah betapa indah melodi yang Dia mainkan."
*tulisan yang pernah disampaikan dalam diskusi bersama remaja masjid at-Taqwa, Sekayu, Semarang Tengah.
Imagine there's no heaven It's easy if you try No hell below us Above us only sky Imagine all the people Living for today...
Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace...
You may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one
Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world...
You may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will live as one
---
Bayangkan surga itu tidak ada
Sangat mudah jika kau coba
Tidak ada neraka di bawah kita
Di atas kita hanya langit
Bayangkan semua orang
Hidup untuk hari ini ...
Bayangkan tidak ada negara
bukanlah hal yang sulit sulit untuk dilakukan
Tidak ada yang membunuh atau mati demi apapun
Dan bayangkan agama juga tidak ada
Bayangkan semua orang
Menjalani hidup dalam damai ...
Kau mungkin mengatakan bahwa aku seorang pemimpi
Tapi aku bukan satu-satunya
Kuharap suatu hari nanti kau akan bergabung dengan kami
Dan dunia akan menjadi satu
Bayangkan tidak ada rasa memiliki
Aku ingin tahu apakah kau bisa
Tidak perlu lagi ada keserakahan atau kelaparan
Sebuah persaudaraan sesama manusia
Bayangkan semua orang
Saling berbagi di seluruh dunia ...
Kau mungkin mengatakan bahwa aku seorang pemimpi
Tapi aku bukan satu-satunya
Kuharap suatu hari nanti kau akan bergabung dengan kami
Dan dunia akan hidup bersatu.
-----
semoga lagu ini tidak hanya berhenti di imajinasi...
Does it all make sense
Or make you go insane
Do you really need a pain
To have what you gain
You try hard and try harder
You never stop
Or pause on whatever
Do you know what you want to be
Money gives you ALMOST Everything need
Love gives you ALMOST all The peace you`ll ever seek
Fame gives you ALMOST Every pride you can crave
Freedom gives you the illusion Of being brave
How far will you go for almost
We all know in a few years
We are all connected
I think you can feel it
Why do you keep denying The inevitable thing
lirik dari MelOn.co.id
Where are you
That`s you and me
Is everything fine
Is it the right on line
and you know what you want to be
Money gives you ALMOST Everything need
Love gives you ALMOST all The peace you`ll ever seek
Fame gives you ALMOST Every pride you can crave
Freedom gives you the illusion Of being brave
How far will you go for almost
We all know in a few
-----
Hampir – Letto
Apakah semua itu masuk akal
Atau membuatmu gila
Apakah kau benar-benar membutuhkan luka
Untuk memiliki apa yang kau raih
Kau berusaha keras dan berusaha lebih keras
Kau tidak pernah berhenti
Atau memberi jeda pada apapun
Apakah kau tahu kau akan jadi apa
Uang memberimu HAMPIR Semua yang kau butuhkan
Cinta memberimu HAMPIR semua kedamaian yang kau akan pernah cari
Ketenaran memberimu HAMPIR Setiap kebanggaan yang kau dapat dambakan
Kebebasan memberimu ilusi tentang keberanian
Sampai kapan kau terus mengejar sesuatu yang sekadar “HAMPIR”?
Kita semua tahu sebentar lagi
Kita semua terhubung
Saya pikir kau bisa merasakannya
Kenapa kau terus menyangkal hal yang tak terelakkan
Dimana kamu
Ya kamu dan aku
Apakah semuanya baik-baik saja
Apakah sejalan pada garis yang benar
dan kau tahu kau akan menjadi apa
Uang memberimu HAMPIR Semua yang kau butuhkan
Cinta memberimu HAMPIR semua kedamaian yang kau akan pernah cari
Ketenaran memberimu HAMPIR Setiap kebanggaan yang kau dapat dambakan
Kebebasan memberikanmu ilusi tentang keberanian
Seberapa jauh lagi kau mengejar sesuatu yang sekedar “HAMPIR”?
Kita semua tahu sebentar lagi.
----
"what you seek is seeking you."
apa yang kau cari, mencarimu.
~ Rumi
kalau begitu, kenapa kita tidak mengalihkan tujuan kepada sesuatu yang melampaui batas ke-Hampir-an?
> maaf. karena saya cari videonya tidak ketemu-ketemu, terpaksa hanya berbentuk suara saja.
silahkan menikmati . . .
عَرَفْتُ الهَوىٰ مُذ عَرَفْتُ هواكَ / وأغْلَقْتُ قَلْبي عَلىٰ مَنْ عَاداكَ / وقُمْتُ اُناجِيـكَ يا مَن تـَرىٰ / خَفايا القُلُوبِ ولَسْنا نراكَ / أحِبُكَ حُبَيْنِ حُبَ الهَـوىٰ / وحُبْــاً لأنَكَ أهْـل ٌ لـِذَاكَ / فأما الذي هُوَ حُبُ الهَوىٰ / فَشُغْلِي بذِكْرِكَ عَمَنْ سـِواكَ / وامّـا الذي أنْتَ أهلٌ لَهُ / فَلَسْتُ أرىٰ الكَوْنِ حَتىٰ أراكْ / فلا الحَمْدُ في ذا ولا ذاكَ لي / ولكنْ لكَ الحَمْدُ فِي ذا وذاكَ ...
aku mengenal cinta karena mengenal cintamukututup pintu hatiku dari semua yang memusuhimudan aku tak henti memanggilmu wahai yang selalu melihatsemua yang dirahasiakan hati, kendati kami tak melihatmuaku mencintaimu dengan dua cinta, satu karena gairah cintakukedua karena hanya engkau yang patut dicintai.karena gairah cintakuia menyibukkanku dari mengingat selainmudan karena hanya engkau lah yang berhak dicintaitiada aku memandang semesta sehingga aku memandangmumaka tiada patut pujian kumiliki atas hal ini dan itunamun hanya milikmu lah segala pujian atas semua ini dan itu.-----puisi Rabi'ah al-Adawiyyah yang dbawakan oleh Ensemble Ibn Arabi
Satu detik lalu
Dua hati terbang tinggi
Lihat indahnya dunia
Membuat hati terbawa
Dan bawa ku kesana
Dunia fatamorgana
Termanja-manja oleh rasa
Dan ku terbawa terbang tinggi oleh suasana
Dari sudut mata
Jantung hati mulai terjaga
Berbisik di telinga
Coba ingat semua
Dan bangunkanlah aku
Dari mimpi-mimpiku
Sesak aku disudut maya
Dan tersingkir dari dunia nyata
Dan bangunkanlah aku
Dari mimpi indahku
Terengah-engah ku berlari
Dari rasa yang harusnya kubatasi
Dan kau menawarkan
Rasa cinta dalam hati
Ku tak tahu harus bagaimana
Untuk raba mimpi atau nyata
Dan bedakan rasa dan suasana
Dalam rangka sayang atau cinta yang sebenarnya
Dan bangunkanlah aku dari buta mataku
Jangan pernah lepaskan aku
Untuk tenggelam di dalam mimpiku
-----
ah, rasanya baru sedetik lalu ayah-ibu kita menikmati percintaannya sehingga membawa kita lahir ke dunia. kita tertegun melihat gemerlap pesta dunia. sayup-sayup mendengar lagu ini aku seperti tertampar hingga melelehkan air mata.
tuhan melemparmu dalam tidur dan memintamu menyelesaikan misinya dalam mimpi sebelum kau dibangunkan kembali. banyak yang lupa bila sedang bermimpi sehingga tuhan mengirim rasulnya yang bersabda "sesungguhnya kehidupan sebenarnya adalah kehidupan akhirat."
oh yang kusebut tuhan, jangan biarkan aku tersesat dalam ilusi (dunia). bangunkan aku sehingga dapat menemukan cinta yang sebenarnya.
In my hallucination I saw my beloved's flower garden In my vertigo, in my dizziness In my drunken haze
Whirling and dancing like a spinning wheel
I saw myself as the source of existence
I was there in the beginning
And I was the spirit of love
Now I am sober
There is only the hangover
And the memory of love
And only the sorrow
I yearn for happiness
I ask for help
I want mercy
And my love says:
Look at me and hear me
Because I am here
Just for that
I am your moon and your moonlight too
I am your flower garden and your water too
I have come all this way, eager for you
Without shoes or shawl
I want you to laugh
To kill all your worries
To love you
To nourish you
Oh sweet bitterness
I will soothe you and heal you
I will bring you roses
I, too, have been covered with thorns
____
Pahit Manis Deepak Chopra feat Madonna (Puisi Rumi)
dalam halusinasiku
aku melihat taman bunga kekasihku
Dalam pening dan pusingku
Dalam kabut kemabukanku
Berputar dan menari seperti putaran roda
Aku melihat diriku sebagai sumber keberadaan
Aku telah ada di awal keazalian
Dan akulah ruh cinta
Sekarang aku sadar
Hanya ada kemabukan
kenangan cinta
Dan hanya kesedihan
Aku merindukan kebahagiaan
Aku meminta bantuan
Aku ingin belas kasihan
Dan kekasihku mengatakan:
Lihatlah dan dengarkan aku
Karena aku di sini
Hanya untuk itu
Aku adalah rembulanmu sekaligus cahayanya
Akulah taman bungamu sekaligus airnya
Aku datang dengan semua cara ini, berhasrat kepadamu
Tanpa sepatu atau selendang
Aku ingin kau tertawa
Untuk membunuh semua kekhawatiranmu
Untuk mencintaimu
Untuk merawatmu
Oh manisnya kepahitan
Aku akan menenangkan dan memulihkanmu
Aku akan membawakanmu mawar
Karena, Aku juga telah terselimuti duri
_____
"tiada minuman yang lebih menyegarkan selain racun ini. tak ada obat yang lebih menyehatkan selain penyakit ini."
mencintai adalah merasakan segala luka seharum bunga, menelan semua perih sesegar anggur putih.