Pages

Tampilkan postingan dengan label jalaluddin rumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalaluddin rumi. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Oktober 2014

Khutbah Idul Adlha di SMAN 4 Semarang: Spirit Qurban: Mendahulukan Orang Lain Di Atas Kepentingan Pribadi



اللهُ أكْبَرُ × 9

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ و اعز جنده وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.

الَلَّهُمَّ فصَلِّ وسَلِّمُ عَلَى سيّدِنَا وحَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.

اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ!

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ 

Hadirin jamaah shalat idul adha rahimakumullah
Pertama-tama marilah kita ungkapkan rasa syukur kita ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang begitu luar biasa banyaknya. Sehingga kita diberi kesempatan dan digerakkan untuk dapat menunaikan shalat idul adha secara berjamaah pada pagi hari ini.
Tidak lupa shalawat serta salam Allah semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi agung Muhammad saw. Nabi yang tidak pernah mendahulukan kepentingan pribadinya di atas nasib umatnya. Berbagai cobaan dan penolakan dari umatnya yang beliau terima tidak pernah beliau balas kecuali dengan cinta. Ketika beliau diusir dan dilempari batu oleh penduduk Thaif, Malaikat jibril datang menawarkan jasanya untuk melemparkan gunung kepada penduduk thaif yang kurang ajar tersebut. Rasuslullah saw menolak. Beliau malah berdoa allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamuun. Ya allah berilah petunjuk kepada umatku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui. Ketika dalam kondisi naza’ sakaratul maut, di antara kata-kata terakhir yang keluar dari bibir mulia beliau adalah “ummati 3x, umatku 3x. Saking khawatirnya Rasulullah kepada umatnya sampai beliau berkata kepada jibril yang menemaninya, “wahai jibril, betapa sakitnya sakaratul maut ini, bagaimana keadaan umatku nanti? kalau bisa biarlah kutanggung seluruh derita kematian umatku. Bahkan kelak di hari kiamat beliau tidak berhenti bersujud dan tidak mau mengangkat kepalanya sebelum semua umatnya dibebaskan dari siksaan api neraka.
Allahu akbar 3x walillahil hamd. Kaum muslimin rahimakumullah.
Apakah kelak kita termasuk yang di akui sebagai umat Rasulullah saw? Apakah kita sudah layak mendapatkan syafaatul 'uzhmanya? Hari raya idul adha ini saya kira tepat sekali dijandikan momentum untuk muhasabah mengintrospeksi diri. Kalau kita ingin menjadi umat Rasulullah saw, Sudahkah kita menjalankan perintah-perintah Allah yang diwahyukan kepada Nabi-Nya? Dan salah satu diantara perintah-Nya adalah ibadah Qurban. Allah SWT berfirman
انا اعطيناك الكوثر. فصل لربك و انحر
Sungguh aku telah berikan kepadamu nikmat yang banyak. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Manusia cenderung mencintai dia yang beruat baik kepadanya. Siapakah yang paling berbuat baik kepada kita? Siapa yang meng-adakan kita? Yang menciptakan mata, lisan, bibir, keluarga, teman-teman, orang-orang yang kita cintai? Siapa yang menganugrahkan iman, islam, nikmat menjalankan ibadah? Maka siapa yang paling berhak untuk kita cintai?
Para bapak-ibu guru dan adik-adikku sekalian. Maka shalatlah dan berkurbanlah. Sebagai wujud rasa terima kasih kita kepada Allah azza wajalla. Juga sebagai bukti cinta kita kepada-Nya. Bagaimana kita bisa memubuktikan cinta tanpa pengorbanan? Maka pada pagi hari ini sembelihlah hewan qurban bagi yang mampu.
Allahu akbar 3x walillahil hamd. Jamaah shalat idul adha yang dirahmati allah.
Karena qurban merupakan ibadah, jangan sampai kita menganggapnya sekadar pesta untuk berfoya-foya. Ibadah harus dilandasi dengan ketundukan dan kepasrahan untuk menjalankan perintah Allah SWT. Qurban juga tidak boleh dibuat sebagai ajang pamer kekayaan, Membangga-banggakan diri. Karena Bukan sebab daging dan darahnya kita bisa meraih Allah. Melainkan taqwa dan kepatuhan yang tulus dari hati kitalah yang mampu meraih-Nya.
Orang yang berkorban dilarang mengambil lebih dari 1/3 bagian dari hewan kurbannya. Hal ini mengisyaratkan bahwa selain semangat berbagi Ibadah qurban juga mengajarkan pentingnya sikap iitsar (mendahulukan orang lain) sebagaimana yang telah diteladankan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Sebagaimana akhlak sahabat anshar yang diabadikan dalam al-qur’an
و يؤثرون على انفسهم ولو كان بهم خصاصة
Para sahabat anshar mau mengalahkan kepentingan pribadi mereka padahal sebenarnya mereka sendiri membutuhkannya, mereka rela untuk berbagi kepada sahabat muhajirin yang telah rela meninggalkan rumah dan apa yang mereka miliki untuk hijrah demi mendukung dakwah rasulullah saw.
Sikap karakter mendahulukan orang lain ini hendaknya kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga setiap sesuatu yang kita kerjakan adalah kemaslahatan untuk sesama. Minimal jangan sampai perbuatan kita menyusahkan bahkan merugikan lain orang. Bukan Rasulullah saw bersabda sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama manusia?




Para bapak-ibu guru dan adik-adikku sekalian. Apapun posisi kalian terapkanlah semangat berkorban dalam setiap aspek kehidupan. Bagi para guru, yang semula mengajar berdasarkan transaksi material, mari kita perbaharui niat. Yang bermula dari materi tidak akan abadi. Uang akan habis, jabatan suatu saat akan hilang. Lalu apa yang telah kita persembahkan? Maka yang bersifat material harus ditransformasikan menjadi spiritual agar menjadi abadi. Niatlah mendidik untuk mengabdi. Kepada Tuhan Sang Sumber Ilmu pengetahuan, kepada bangsa agar kelak generasi kita tidak binasa.
Untuk adik-adikku sekalian. Sebagaimana pesan imam syafii
يا معشر الشباب ان في ايديكم لامر الامة و في اقدامكم حياتها
Wahai para pemuda sesungguhnya di tangan kalianlah urusan umat dan di langkah kalian lah masa depannya. Adik-adikku sekalian, walaupun dari media massa sampai jejaring social banyak sekali yang menggunjing kelakuan beberapa oknum di antara kalian. Entah itu tentang tawuran, penyalahgunaan obat-obatan, pelecehan seksual dan tindak criminal lainnya. Saya masih menaruh harapan pada kalian. Kalian punya keberanian sebagaimana nabi ismail yang menantang tajamnya pedang ayahnya, kalian kaya akan kreatifitas-kreatifitas segar. Solidaritas dan kesetia kawanan kalian kuat. Sadarlah dan berhati-hatilah jangan sampai kembali menjadi jahiliyyah yang fanatic. Pikirkan masak-masak sebelum bertindak. Apakah yang akan kita kerjakan melanggar syariat allah swt? Akankah merugikan orang lain dan diri sendiri atau tidak? Teladanilah Ismail, anak muda yang punya idealisme. Patuh tidak berarti rapuh. Berkorbanlah, bahagiakan orang tua kita, hormati guru-guru kita. Semoga menjadi generasi masa depan yang gemilang.
allahu akbar 3x walillahilhamd.
di akhir khutbah pertama ini, saya ingin mengutip kalimat Mawlana Jalaluddin Rumi, seorang tokoh sufi dari Turki.
Take away what I want. Take away what I need. Take away everything that take me from you.
Ambillah apa yang kuinginkan. Ambillah apa yang aku butuhkan. Ambillah segalanya yang menjauhkanku darimu.

 

قال الله تعالى وبقوله يهتدي المهتدون. وإذا قرء القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون

ÎŽóÇyèø9$#ur ÇÊÈ   ¨bÎ) z`»|¡SM}$# Å"s9 AŽô£äz ÇËÈ   žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# (#öq|¹#uqs?ur Èd,ysø9$$Î/ (#öq|¹#uqs?ur ÎŽö9¢Á9$$Î/ ÇÌÈ  


بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم
 . ونفعني وأياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم . وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم  . وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين


Senin, 25 Februari 2013

Cinta; Dari Perasaan Hingga Keyakinan



Laqad shaara qalbi qaabilan kulla shuurah/ fa mar'an li ghazlan wa diirun li ruhban
Wa baitun li awtsan wa ka'batu Thaif/ wa alwaahu tawrat wa mushhaafu-quran
Adinu bi diinil-hubb anni tawajjahtu/ rakaa'ibahu fal-hubb diinii wa iimanii

Sungguh! Hatiku telah sanggup menerima segala rupa/ ia adalah padang rumput bagi kijang dan biara bagi rahib
Kuil bagi penyembah berhala dan Ka'bah bagi yang bertawaf/ ia adalah lembaran-lembaran taurat sekaligus mushaf Al-Quran
Aku memeluk agama cinta, kuhadapkan dan kuserahkan diriku/ pada perjalanannya, Sungguh! cinta adalah agama dan imanku.
~Ibnu Arabi


Cinta selalu menjadi perbincangan menarik. Ribuan puisi, sajak, buku, lagu, film, selalu tak pernah luput membahas masalah cinta. Tapi ketika ditanya apa itu cinta, banyak orang biasanya terdiam sejenak. Ada yang bingung, dan kalau pun menjawab, jawaban mereka seringkali seputar pengorbanan, kesetiaan, dan hal-hal lain yang terkait dengan perasaan. Bagi orang skeptis, apalagi mereka yang trauma oleh pengkhianatan, perbincangan tentang cinta adalah semacam omong kosong berbau busuk. Bak bunga bangkai tak terbingkai namun orang selalu ingin menjenguk. Setelah melihat film Habibi Ainun, mereka baru percaya cinta sejati itu ada.
Namun sayangnya, cinta sejati dinilai dari sekadar romantisme. Sehingga makna cinta dikebiri menjadi hubungan gombal picisan. Kesetiaan sekarang menjadi satu-satunya kata kunci dalam mengartikan cinta. Nasib cinta kini seperti puisi yang kehilangan permenungan filosofis. Cinta hanya dirasakan tak pernah sampai menjadi keyakinan.

Cinta dan Agama

Setiap agama membawa ajaran tentang cinta. Agama kristen misalnya yang seringkali menggunakan jargon cinta kasih. Konsep ini mendominasi semua ajaran agamanya. Yang paing masyhur adalah ungkapan “kalau kamu ditampar pipi kirimu, berikan pipi kananmu.” Atau dalam kisah orang yang tertangkap berzina kemudian diajukan kepada Yesus agar dihukum rajam. Apa kata Yesus? Bagi yang merasa tidak punya dosa, silahkan melempar duluan. Makanya banyak sekali missionaris yang menyebarkan agamanya melalui pelayanan masyarakat, seperti kesehatan dan pendidikan gratis.
Dalam agama Budha cinta diyakini secara universal kepada seluruh ciptaan Tuhan. Artinya cinta kita kepada hewan, tetumbuhan, dan makhluk lainnya harus sama dengan cinta kita kepada sesama manusia. Bahkan tidak boleh mencintai seseorang lebih dari cintanya kepada yang lain. Kalau cintamu terpenjara hanya pada satu sosok makhluk saja, maka ia menjadi hijab untuk mencapai pencerahan. Keyakinan ini berkaitan dengan hukum karma dan reinkarnasi dalam kepercayaan mereka. Makanya para biksu dilarang makan daging. Jangankan memakan, membunuh hewan saja tidak boleh. Bisa jadi hewan yang kita bunuh dahulu adalah saudara kita di kehidupan sebelumnya.
Islam sendiri mempunyai slogan terkenal, rahmatan lil-‘aalamiin yang dikutip dari ayat al-qur’an wamaa arsalnaaka illaa rahmatan lil-‘aalamiin (Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam) (QS. 21: 107). Kata rahm mempunyai makna yang lebih luas dari cinta yang lumrah kita pahami. Biasanya ia diartikan kasih sayang. Konsep rahmatan lil-‘alamin ini berbeda dengan cinta universal dalam agama Budha. Porsi cinta tidak harus sama, tapi harus terintegralkan dalam dasar cinta kepada Tuhan.

Cinta dalam Sufisme

Membincang cinta dalam agama Islam akan lebih menarik jika kita menilik konsep cinta dalam sufisme. Konsep cinta dalam tasawuf dipopulerkan oleh Rabi’ah al-‘Adawiyyah. Menurutnya hubungan ideal antara hamba dan Tuhannya adalah seperti pencinta dan kekasihnya. Kamu jangan beribadah karena menginginkan surga atau takut siksa neraka. Beribadahlah karena murni cintamu kepada pemilik keduanya. Bahkan dalam sebuah riwayat, Rabi’ah pernah berdoa;

Wahai Tuhanku,
Bilamana daku menyembah-Mu karena takut neraka, jadikanlah neraka kediamanku. Dan bilamana daku menyembah-Mu karena gairah nikmat di surga, maka tutuplah pintu surga selamanya bagiku
Tetapi apabila daku menyembah-Mu demi Dikau semata, maka jangan larang daku menatap keindahan-Mu yang abadi.

Kemudian konsep cinta dalam tasawuf berkembang setelahnya. Muncul para sufi seperti al-Hallaj dengan hulul-nya, Abu Yazid al-Busthami dengan ittihad-nya, Ibnu Arabi dengan wihdatul wujud-nya, Jalaluddin Rumi dengan kosmologi cintanya. Mereka mengenalkan konsep cinta secara lebih filosofis. Secara  global, cinta yang mereka konsepsikan bisa dibilang hampir mirip. Hanya terdapat perbedaan pada  penggunaan istilah dan masalah-masalahl detilnya.
Yang menarik dari konsep mereka adalah cinta tidak lagi difahami sebagai pengorbanan. Cinta bukan lagi tentang romantisme picisan. Cinta adalah segala tentang peniadaan diri untuk “menyatu” dengan sang kekasih. Tidak ada lagi dualitas antara kau dan aku. Karena hubungan antara dua entitas adalah transaksi, bukan cinta sejati. Tidak ada lagi separuh kau dan aku, karena segala aku telah luruh melebur kedalam seluruh kamu. Hal ini bisa kita lihat dari beberapa ungkapan mereka yang terkenal. Al-Hallaj memproklamirkan "ana al-haqq" (akulah Sang Maha Kebenaran, Abu Yazid berseru, “subhaani u’buduuni” (maha suci Aku, sembahlah Aku). Ibnu Arabi bersenandung dalam syairnya, “fama nazhrat ‘ainayya ila ghairi wajhihi/ wama sami’at udzunayya siwaa kalaamihi” (maka kedua mataku tidak memandang selain wajah-Nya/ dan kedua telingaku tidak mendengar kecuali ucapan-Nya).
Semua ungkapan ini rentan untuk disalah-fahami. Bagi mereka yang menelan mentah-mentah akan menganggap para tokoh sufi itu telah kurang ajar bahkan murtad sebagaimana Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan. Ada pula yang mencurigai sebagai paham inkarnasi seperti ajaran kristiani tentang avatar Tuhan yang menitis kepada Yesus Kristus. Namun Jalaluddin Rumi punya pemahaman yang menarik mengenai sathahat-sathahat sufistik tersebut. Menurutnya ungkapan tersebut adalah puncak kerendah-hatian seorang hamba. Mereka telah meniadakan keakuannya. Di sana tak ada lagi dua entitas; aku dan Allah. Jika masih ada dualitas, berarti ia masih menonjolkan keakuannya. Sedangkan mereka telah meniadakan diri dan memasrahkannya kepada Sang Kekasih. Dengan penuh kesadaran mereka mengakui bahwa tiada wujud sejati selain Allah. Aku dengan segala eksistensiku adalah tiada. Aku bukan apa-apa.
Filosofi cinta mereka ternyata juga mempengaruhi beberapa penyair kontemporer. Taufiq Ismail misalnya yang menterjemahkan puisi cinta Rabi’ah. Dia juga menulis lirik lagu “jika surga dan neraka tak pernah ada” yang dinyanyikan oleh Chrisye dan Ahmad Dhani. Kita juga bisa menemukan filosofi Ibnu Arabi dalam penggalan sajak “Satu” Sutardji Calzoum Bachrie di bawah ini

kalau kelaminmu belum bilang kelaminku
aku terjemahkan kelaminku ke dalam kelaminku.
daging kita satu arwah kita satu
walau masing jauh
yang tertusuk padamu berdarah padaku.”

Jika kita mendengar lagu “larut” dan “satu”-nya grup band Dewa, melihat video klip “permintaan hati” dan “senyumanmu”-nya Letto, disana pun kita bisa menemukan nuansa cinta sufistik terasa kental sekali. Dalam dua lagunya itu, Ahmad Dhani cenderung memakai diksi yang banyak diambil dari konsep hulul-nya al-Hallaj. Sedangkan dalam lirik permintaan hati letto lebih bernuansa wihdatul wujud Ibnu Arabi dan menggunakan gaya cinta Rumi dalam lagu senyumanmu.

Cinta dan Keseimbangan Alam

Di antara para tokoh sufi tersebut, yang paling populer pemikirannya tentang cinta adalah Jalaluddin Rumi. Bahkan pasca tragedi WTC, orang barat banyak yang tertarik mempelajari Islam, dan Rumi diklaim sebagai duta Islam di dunia barat. Mereka terkesan dengan syair-syair dan pemikirannya tentang cinta sehingga merubah prejudies/ prasangka mereka tentang Islam.
Konsepnya tentang cinta berkaitan erat dengan kosmologi. Menurutnya cinta adalah yang menjadi dasar segala ciptaan. Cinta mengada mendahului rasionalitas dan hukum. Untuk lebih memasuki teori cinta Rumi, saya akan ajukan beberapa pertanyaan. Apa yang membuat sebuah benda bergerak? Dalam fisika kita akan menemukan jawabannya: Gaya. Apa inti gaya itu? Tarikan dan dorongan. Jika kita membuka pelajaran fisika salah satu macam gaya adalah gravitasi (daya tarik planet). Kalau kita memakai teori cinta Rumi, hal itu menjadi terbalik, karena gravitasi lah yang menyebabkan keseimbangan gerak benda. Semua benda di sekitar kita punya potensi gravitasi, namun ia terkendali oleh daya gravitasi yang lebih besar yakni; bumi. Gerak bumi pun terkendali oleh daya gravitasi matahari. Matahari terkendali oleh gravitasi pusat galaksi. Dan semua galaksi di cakrawala semesta ini pasti bergerak dalam kendali gravitasi yang Maha Kuat (al-Qawiyyu). Apa inti gravitasi? Daya tarik. Itu dia cinta; tarikan. Jadi, seluruh semesta ini dijadikan Tuhan berdasarkan tarikan cinta dari Dzat yang Maha Mencintai. Fenomena ini sesuai dengan hadits Qudsi, kuntu kanzan makhfiyan fa-ahbabtu an u’arrifa. Dahulu Aku adalah harta tersembunyi, lalu aku berhasrat (cinta) untuk dikenali.
Berdasarkan cinta Allah ini, terpancarlah nur muhammad atau haqiqatul muhammadiyyah menurut isltilah al-Hallaj. Sedangkan dalam filasafat faidh (emanasi), dinamakan akal pertama. Kalau teori bigbang benar, bisa jadi itulah manifestasi awal nur muhammad. Maka hadits qudsi “lawlaaka lawlaaka lammaa khalaqtul-aflaak” (kalau tidak ada kamu, kalau tidak karena kamu (Muhammad) tidak akan Aku ciptakan alam semesta), dapat kita temukan relevansinya disini.
Pada nur muhammad inilah tercermin segala sifat Tuhan secara sempurna. Akhirnya makhluk berkembang menjadi banyak, dan sifat-sifat Tuhan pun terbagi sesuai keterbatasan masing-masing. Karena sifat Tuhan yang tercermin dalam nur muhammad telah terpecah dan terbagi ke berbagai bentuk, harus ada satu quthb (poros) yang mewakili keutuhan atribut nur muhammad sebagai penyeimbang kelangsungan hidup alam semesta. Maka Allah mewujudkan esensi nur muhammad ke dalam diri Adam sebagai khalifatullah. Khalifatullah berperan sebagai “wakil” pengganti Allah yang bertugas menjaga keseimbangan dunia. Dia harus menjadi adi manusia, Ibnu Arabi dan Abdul Karim al-Jili menyebutnya al-Insan al-Kamil. Manusia yang mampu menyerap dan memanifestasikan sifat-sifat Tuhan dalam kehidupannya. Nur muhammad terus berpindah dari Adam ke keturunannya. Dan Insan Kamil yang paling sempurna menyerap dan mencerminkan sifat-sifat Tuhan adalah Nabi Muhammad Saw.
Bila datang suatu masa dimana tidak ada satu pun manusia yang mampu merefleksikan sifat-sifat Tuhan, maka terjadilah kekacauan di antara tarikan-tarikan. Karena setiap tarikan di dunia telah kehilangan kutubnya. Semua tarikan itu, Rumi menyebutnya cinta. Bilamana cinta telah sirna maka kiamat sudah tiba waktunya.

Yawma yafirrul-mar’u min akhiihi wa ummihi wa abiihi wa shahibatihi wa baniihi (Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya). (QS. 80: 34-36)
Yawma tarawnahaa tadzhalu kullu murdhi’atin ‘amma ardha’at wa tadha’u kullu dzaati hamlin hamlahaa (Pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil). (QS. 22: 2)
Yawma yakuunun-naasu kal-faraasyil-mabtsuuts, wa takuunul-jibaalu kal-‘ihnil-manfuusy (Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan). (QS. 101: 4-5)
Idzas-samaa`u-(i)nfatharat, wa idzal-kawaakibu-(i)ntasyarat, wa idzal-bihaaru fujjirat (Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap). (QS. 82: 1-3)

Bukankah semua itu menunjukkan tarikan-tarikan yang telah kehilangan kutubnya? Bukan-kah semua itu merupakan gambaran bahwa cinta sudah lenyap dari hati setiap makhluk-Nya?



This is love: to fly toward a secret sky, to cause a hundred veils to fall each moment. First to let go of life. Finally, to take a step without feet.”

“Inilah cinta: terbang di langit rahasia, menyebabkan seratus hijab luruh setiap saat. Pertama membiarkan pergi kehidupan. Akhirnya, menjangkah tanpa kaki.”
                                                                                   ~Mawlana Rumi