Pages

Jumat, 11 Januari 2013

Remah-Remah Rumah




apa yang pekak,
hening
apa yang kelu,
pekik
apa yang ngilu,
                        rindu
apa yang nyeri,
                        sepi
apa yang apa,
                        bagaimana
apa yang aku,
                        kamu
apa yang menikam,
                        ingatan

tentang makan. tentang bagaimana kita berebut warna piring. tentang piring terbang. tentang tutup ember bekas cat yang saling kita lempar. tentang koleksi mobil-mobilan, kelereng dan kartu bergambar. kini aku mengoleksi koneksi. apa yang sekarang kamu koleksi? koreksi!

Aku selalu tersenyum mengenang bagaimana kita saling bersaing. Menghitung berapa langkah jarak antara rumah dan tempat mengaji. Karena kata ibu, setiap langkah kaki kanan, mendapat satu pahala, langkah kaki kiri menghapus dosa. Aku menang, karena langkahku kupendekkan.
Jika salah satu kita ketahuan curang, mulailah saling ejek-mengejek, mungkin dengan nama “pacar,” atau nama olokan. Kamu memanggilku wedus, aku memanggilmu gembus. Jika salah satu di antara kita sudah kehilangan kesabaran, meletuslah pertengkaran, berawal dari pukul-pukulan ringan, saling jambak, hingga cakar-cakaran tak beraturan.

Aku selalu merasa sangat bersalah, ketika melihat kamu akhirnya berdarah, kerna kulempar kerikil. Masih ingatkah dahulu ketika kita saling berebut mainan plastik yang dapat saling disambungkan? Kepala kerasmu itu membentur lingiran tembok langgar. Darrr...Darah segar bercucuran, kulihat kentalnya seperti bekas gayung atau hanger yang seringkali kita bakar. Kamu menangis kencang, aku kebingungan. Seperti bingungku sewaktu pulang sekolah, kita jatuh dari sepeda yang kamu pinjam dari teman sebab uang saku habis, tak bisa umbal. kamu pingsan. Katamu kamu tidak makan siang. Ah, kamu memang selalu berkilah kalau kalah. atau memang kamu mengalah? Entahlah.

Tapi aku juga tidak selalu menang. Aku selalu kalah dalam hal gila-gilaan. Karena kamu memang gila. Aku kalah saat kamu tantang menghisap tegesan rokok yang kita pungut di jalanan, menyedot es campur lewat hidung, menelan sobekan kertas dari buku tulis kita, berlama-lama memandang matahari dengan mata telanjang. Dan beberapa hal yang aku memang takut. Seperti ketika kau ajak aku berenang. Aku tidak bisa berenang.
“Katanya di sorga banyak kolam-kolam, bagaimana nanti kalau kamu tidak bisa berenang?”
Waktu itu aku tak bisa menjawab. jika kamu bertanya lagi hal yang sama, akan kujawab “akan kuminta Tuhan mengeluarkanmu dari neraka, untuk mengajariku berenang.”

Semoga kamu juga tidak lupa kalau kita pernah nakal bersama. Saat subuhan yang telat sebab bangun kesiangan. Kita coba buka gembok langgar dengan biting sapu lidi. Berlagak bak james bond, meskipun aku belum tahu ada tukang kebon bernama james. Atau james memang sering ngebon nasi rames. Bitingnya patah di dalam lobang. Ketika waktu bedug tiba tanpa suara beduk, jamaah geger menjebol gembok langgar.

Oh betapa kenangan terasa begitu dekat. Sedang yang terkenang ternyata telah jauh terlewat....

Kalau kamu sekarang sedang akan tidur, cobalah tangkupkan kedua tapak tangan. Buka telapak yang kanan. Biarkan kedua jempol berdiri tegak. Lihat bayangannya di dinding. Goyang-goyangkan sambil bernyanyi”

Kidang, talung
Mangan kacang talung
Milketemil milketemil
Si kidang mangan lembayung....

Masih ingat kan? itu lagu yang sering dinyanyikan ibu sebelum mengantar kita tidur. Apakah kamu juga menyanyikannya untuk anakmu?

Betapa mudahnya hubungan kita patah seperti biting dalam gembok. Kenapa untuk menyambungnya kembali tak semudah menyambung mainan plastik? Berapa langkah kita telah saling berpisah? Bagaimana pula menghitungnya? James bond pasti juga tidak bisa.

apa yang retak,
                        ikatan
apa yang hilang,
                                                kemesraan
apa yang  haus,
                                                                        keinginan
apa yang salah,
                                                                                                amarah
apa yang bajingan,
diam



Jumat, 04 Januari 2013

Ulasan Lagu Jalan Sunyi-Emha Ainun Nadjib

  



Awal saya menegenal nama Cak Nun ( Emha Ainun Nadjib ) adalah ketika saya duduk di bangku MI (tepatnya kelas berapa saya lupa). Waktu itu, bapak membeli kaset tape yang berisi musik Kyai Kanjeng . Pertama kali mendengarnya, telinga saya merasa bising. Iki musik cap apa? kok mbrebeki kuping. Untung saya belum kenal kata diancuuk. Lalu saya sering melihatnya di televisi memberi petuah-petuah tentang kenegaraan. Entah mungkin karena kualat, saya mulai menggemari dia saat pertama kali bersentuhan dengan bukunya yang berjudul "Slilit Sang Kyai" yang saya temukan di perpus sekolah MA NU RAUDLATUL MUALLIMIN WEDUNG . Edan tenan orang ini, dia bisa mengemas tulisan yang seringkali berat dengan bahasa yang sangat nakal. Sepulang ke rumah saya cari kaset yang dibeli bapak beberapa tahun yang lalu. Sayangnya tidak ketemu. Akhirnya kerinduan saya terlampiaskan setelah berkenalan dengan internet. Saya bisa mendownload lagu-lagunya, tulisan-tulisannya, dan ceramah-ceramahnya.
Yang saya kagumi dari Cak Nun bukan saja pemikiran dan humornya, terlebih lelaku hidupnya yang konsisten. Berbagai gelar dan julukan disematkan padanya. Kyai, sastrawan, budayawan, pemikir, tokoh reformasi. Tapi Cak Nun tidak peduli semua sebutan-sebutan itu. Dia hanya nyaman sebagai manusia biasa. Dia mampu menjadi manusia seutuhnya di tengah-tengah banyak orang yang karena kedudukannya menjadi kehilangan kemanusiaannya. Kalau sudah menjadi kyai tak mau lagi nongkrong di warung kopi. Sudah menjadi pejabat malu kalau tidak pakai jas berdasi. Emha tak segan berkaos oblong, tak sungkan lungguh lesehan berjam-berjam bersama rakyat merayakan kemanuisaan. dia tak terusik dengan pujian dan makian yang dialamatkan padanya karena dia sudah memuji dan memaki-maki dirinya sendiri.
Namun kini, beliau sepertinya sudah mengundurkan diri dari gemerlap media. Dia meneguhkan lelaku hidupnya yang tercermin dalam puisinya yang kemudian dijadikan lagu berjudul “Jalan Sunyi.”
Dalam tulisan ini saya tidak menafsirkan lirik lagunya. Saya hanya berusaha memahami dan menyimpulkan puisinya berdasarkan tulisan-tulisan dan ceramah-ceramah yang pernah saya baca dan saya dengar.

Jalan sunyi

 

Akhirnya kutempuh/ jalan yang sunyi mendendangkan lagu bisu/ sendiri di lubuk hati/ puisi yang kusembunyikan dari kata-kata/ cinta yang takkan kutemukan bentuknya

kalau memang tak bisa engkau temukan wilayahku/ biarlah aku yang terus berusaha mengetuk pintu rumahmu/ kalau memang tak sedia engkau menatap wajahku/ biarlah para kekasih rahasia allah yang mengusap-usap kepalaku

mungkin engkau memerlukan darahku untuk melepas dahagamu/ Mungkin engkau butuh kematianku untuk menegakkan hidupmu/ Ambilah ambillah... akan kumintakan izin kepada Allah yang memilikinya/ Sebab toh bukan diriku ini yang kuinginkan dan kurindukan


-------------

Akhirnya kutempuh/ jalan yang sunyi mendendangkan lagu bisu/ sendiri di lubuk hati/ puisi yang kusembunyikan dari kata-kata/ cinta yang takkan kutemukan bentuknya

Sepertinya lirik ini menceritakan keputus-asaan seseorang menghadapi kehidupan duniawi. Baik yang telah mendapatkan dan merasakan seluruh gemerlap kenikmatannya, atau pun yang gagal, tidak mampu mencapainya. Bagi yang sudah pernah merasakan segala kenikmatan dunia, dunia ini terasa membosankan. Kekayaan, kemasyhuran, segala keberlimpahan tak mampu membuatnya bahagia. Akhirnya dia tahu borok-borok dunia. Orang-orang yang memujinya tak sepenuhnya tulus, mereka menyimpan kepentingan. Dia hanya dijadikan alat pemuas nafsu mereka. Bagi yang gagal mencapainya, dia kecewa, ternyata dunia selalu menipunya. Semua usahanya tak dihargai, karyanya tak diakui, cintanya tak pernah diterima. Hanya duka dan luka yang ia derita. Akhirnya dia memilih menempuh jalan sunyi. Jalan yang jarang dilalui kebanyakan orang. Jalan sejati. Jalan untuk lebih mengenal dan akrab dengan yang inti, yang hakiki. Jalan ilahi.
Jalan sunyi itu seperti lelaku puasa. Melawan mainstream. Ada makanan tak dimakan. Ada minuman tak diminum. Ada banyak wanita hanya satu yang dipilih. Ada kursi tak diduduki. Ada kekuasaan tak dijabat. bernyanyi tak berbunyi, menangis tak didengarkan, menjerit tak diperhatikan. berkarya tak dihargai, ada tak diakui, mencintai malah dibenci, hadir tak pernah menjadi. Kita tahan dan tangguhkan semua itu demi menuju Makan sejati.

kalau memang tak bisa engkau temukan wilayahku/ biarlah aku yang terus berusaha mengetuk pintu rumahmu/ kalau memang tak sedia engkau menatap wajahku/ biarlah para kekasih rahasia allah yang mengusap-usap kepalaku

Bait ini adalah ungkapan kekecewaan kepada dunia. Penyairnya seolah-olah berkata kepada dunia, “wahai dunia kalau memang engkau tak mampu menemukan arti kehadiranku. Engkau tak bisa mengerti dan memahami usahaku untukmu, tidak apa-apa. tak mengapa, tidak masalah bagiku. Biarlah aku saja yang terus menghormatimu, terus melayanimu, terus mempelajarimu. Bahkan kalau pun engkau sebenarnya sudah mengetahui arti kehadiranku, tapi engkau tetap tak bersedia menghormati dan menghargai semua yang kulakukan untukmu, biarlah, biarlah. Aku tidak peduli, nothing to lose. Aku Rak Pethe’en. Biarlah Tuhan dan kekasih-Nya yang selalu menyayangiku, selalu memanjakan diriku, selalu menuntun jalanku.”
Dalam bahasa
Sayyidina Ali Bin Abi Thalib ya dunya ghurri ghairi laqad thallaqtuki tsalatsan.” Wahai dunia, rayulah selain aku, sungguh aku sudah jatuhkan talak tiga kepadamu. Namun kita tak perlu se-ekstrim itu, kita ganti saja berkata, wahai dunia aku mencintai gemerlap kenikmatanmu. Tapi jangan harap kamu menjadi pengantinku. Karena kamu hanyalah jembatan yang mengantarkanku kepada pengantin yang sejati, dia yang inti, yang hakiki. Dunia jangan kita masukkan dalam hati. Kalau dunia kita biarkan bersemayam dalam hati, dia akan jadi raja dan kita menjadi budaknya. Taruh dia di tangan kita, maka kita akan dengan mudah mempermainkannya.

Mungkin engkau memerlukan darahku untuk melepas dahagamu/ Mungkin engkau butuh kematianku untuk menegakkan hidupmu/ Ambilah ambillah... akan kumintakan izin kepada Allah yang memilikinya/ Sebab toh bukan diriku ini yang kuinginkan dan kurindukan

Mungkin kehidupan duniawi ini memang selalu menipu. Al-Qur’an sendiri telah memperingatkan, wamal hayatud dunya illa mata’ul-ghurur. Kehidupan dunia itu tiada lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Dia selalu memanfaatkan kita. Sepertinya tangan lembutnya mengusap-usap, padahal dia mencabik-cabik dengan kukunya. Seolah-olah dia memeluk kita, tapi sekaligus menggigit leher kita. Kelihatannya dia mengulurkan bantuan ternyata untuk meraih keuntungan pribadi yang lebih besar. Namun sang penyair berkata biarlah, karena aku sudah menempuh jalan sunyi, engkau mau apa dariku, ambillah, engkau mau emas freeport silahkan habiskan, kamu ingin reog ponorogo, silahkan dipatenkan. Kalian pingin pulau ambalat, silahkan caplok, kita masih punya ribuan pulau lagi. Kamu pingin menang piala AFF, sak karepmu, kita memang sedang berpuasa juara, buat apa menang kalau melukai hati yang kalah. Kita orang jawa punya slogan menang tanpo ngasorake (menang tanpa merendahkan yang lain). Kamu ingin minyak dan seluruh hasil bumi Indonesia, mangga disedot gan... Tidak apa, bangsa kita kan punya kesadaran tasawuf tingkat tinggi. Memang sangat tipis bedanya antara jadi orang sufi dan orang sableng. Makanya ada seorang sufi yang dijulkuki majnun (si gila).
Lirik ini senada dengan yang dikatakan Mawlana Jalal ad-Din RumiTake away what i want. Take away what i do, Take away what i need. Take away everything what take me from you. Ambillah apa yang kuinginkan, ambillah [hasil] yang kulakukan, ambillah yang kubutuhkan, ambillah semua yang mengambilku darimu. Ambillah semua yang menjauhkanku darimu.
Kalau sudah mampu bersikap demikian kita akan sampai pada yang dikatakan Bayazid Bastami بايزيد بسطامىwhen he without all, he with all.” Ketika seseorang sudah tanpa apa-apa, dia punya segalanya. Kita tak lagi merasa memiliki dan kehilangan, walaupun semua datang dan pergi dari kita. Apanya yang hilang kalau kita tidak [merasa] memiliki apa-apa. Bahkan kita tidak memiliki diri kita sendiri. Bukankah semua ini milik-Nya, bukankah semua yang melekat pada kita hanya titipan saja?


#tulisan yang pernah disampaikan dalam diskusi bersama remaja Ukrimat Masjid Sekayu, Semarang Tengah.

Senin, 10 Desember 2012

memori tentang mubadzir

 
apakah anda selalu menghabiskan makanan dan minuman anda? ketika saya melihat di pesta-pesta, atau suguhan tamu-tamu, seringkali saya melihat mereka tidak menghabiskan makanan atau minumannya. saya teringat kejadian semasa sekolah aliyah dulu. saya mengamati beberapa teman, entah apa motifnya sering memubadzirkan makanan dan atau minuman. kalau pas jajan, seringkali makanan/ minuman tidak dihabiskan. pernah saya melihat seorang teman makan gorengan baru beberapa gigit, langsung ia buang. yang paling parah sewaktu pulang sekolah, saya lihat kakak kelas, setelah makan sambil membawa es teh yang belum habis, ia menuju ke belakang warung yang langsung tembus ke sungai. dia kencing di sana. setelah melepas hajatnya dia pamerkan ke teman-temannya bagaimana ia cebok pake es teh.
"bajingan, wong edan tenan iki, bocah aliyah kok ga paham fikih." batinku.
hingga suatu hari, saat istirahat, saya menemani teman saya jajan di kantin sekolah. dia jajan beberapa makanan ringan dan es minuman instan. baru beberapa sedot dia telan minuman itu, dia sudah sia-siap membuangnya ke tempat sampah. dengan gaya robot, akhirnya dia lepaskan minuman dalam plastik itu. beberapa detik sebelum minuman itu benar-benar jatuh ke tempat sampah, tangan saya menyambarnya. minuman itu selamat berada di genggaman saya.
"daripada kamu buang, mending tak minum aja." kata saya kepadanya.
teman saya malah muji-muji saya, "wuiizz edyan, gerakanmu kaya jetli ngono mas."

saat ini saya berpikir, gerakan itu kalau dibuat slow motion bagus kali ya. saya sendiri lupa caranya. disuruh mengulanginya lagi mungkin saya ga bisa. atau itu mungkin karena sangking hausnya saya saja. hahaha...

Selasa, 04 Desember 2012

Tafsir atas Sandaran Hati – Letto; “Tawakal dalam Ke-Tawhid-an”*


Menurut saya letto adalah salah satu dari sedikit band Indonesia yang punya idealisme. Pemilihan nama letto tidak dimaksudkan merujuk pada arti apapun. Letto adalah kata yang tidak punya arti/ makna. Pemilihan nama tanpa makna merupakan langkah tidak populer dalam arus mainstream. Letto mendekosntruksi tatanan nama dan makna. Dimana makna menjadi logosentrisme dari sebuah nama. Letto tidak memilih nama berdasarkan kata yang sudah terdefinisi. Para personilnya justru ingin membuat makna Letto dengan apa yang mereka lakukan. Singkatnya, Letto berarti apa dan bagaimana mereka berkreasi.
Dalam kesempatan kali ini saya hanya mencoba menafsirkan lirik lagu sandaran hati. Saya tidak membahas kualitas musikalitas mereka, karena saya belum paham musik :). Menariknya, penulis lirik lagunya (Sabrang Mowo Damar Panuluh/ Noe) tidak ingin memonopoli makna atas lagunya. Dia membebaskan setiap penikmat lagu memberi arti berdasarkan pengalamannya sendiri. Hal ini mengingatkan saya pada pemikiran para filosof postmodern, seperti Heidegger dan Derrida. “Matinya” sang pengarang (author) menjadi trend baru dalam memahami teks.



Sandaran Hati:

Yakinkah ku berdiri/ Di hampa tanpa tepi/ Bolehkah aku/ Mendengarmu
Terkubur dalam emosi/ Tanpa bisa bersembunyi/ Aku dan nafasku/ Merindukanmu
Terpuruk ku di sini/ Teraniaya sepi/ Dan ku tahu pasti/ Kau menemani/ Dalam hidupku/ Kesendirianku

Teringat ku teringat/ Pada janjimu ku terikat/ Hanya sekejap ku berdiri/ Kulakukan sepenuh hati/ Peduli ku peduli/ Siang dan malam yang berganti/ Sedihku ini tak ada arti/ Jika kaulah sandatan hati/ Kaulah sandaran hati/ Sandaran hati

Inikah yang kau mau/ Benarkah ini jalanmu/ Hanyalah engkau yang ku tuju/ Pegang erat tanganku/ Bimbing langkah kakiku/ Aku hilang arah/ Tanpa hadirmu/ Dalam gelapnya/ Malam hariku

Teringat ku teringat/ Pada janjimu ku terikat/ Hanya sekejap ku berdiri/ Kulakukan sepenuh hati/ Peduli ku peduli/ Siang dan malam yang berganti/ Sedihku ini tak ada arti/ Jika kaulah sandatan hati/ Kaulah sandaran hati/ Sandaran hati

-----

Yakinkah ku berdiri/ Di hampa tanpa tepi/ Bolehkah aku/ Mendengarmu
Terkubur dalam emosi/ Tanpa bisa bersembunyi/ Aku dan nafasku/ Merindukanmu
Terpuruk ku di sini/ Teraniaya sepi/ Dan ku tahu pasti/ Kau menemani/ Dalam hidupku/ Kesendirianku

Lirik ini mengajak kita mempertanyakan keberadaan diri. Mempertanyakan menjadi jurus jitu dalam hal menanam gagasan. Pendengar tidak disuguhi bahasa yang langsung jadi. Dia harus mengolahnya lagi melalui kontemplasi. Dimanakah kita saat ini? Dalam filsafat emanasi, ruang dan waktu adalah mutlak. Segala sesuatu bereksistensi dalam keduanya. Ukuran adalah keterbatasan manusia memahami fenomena. Lirik ini tidak memaksa kita mempercayai emanasi, justru mengajak kita mempertanyakannya kembali. Benarkah kita dalam hampa yang tak bertepi? Lalu dimana engkau Tuhan, asal segala kejadian, sebab setiap akibat? Bolehkah aku mendengar [kabar] tentang-Mu?
Terkubur dalam emosi/ Tanpa bisa bersembunyi/ Aku dan nafasku/ Merindukanmu.... 
Menghadapi  realitas kehidupan, berbagai perasaan seperti senang, sedih, gembira, takut, cemas, galau mengisi hati silih berganti. Seringkali kita tak mampu mengendalikan semua emosi itu. Kita terkadang merasa ingin lepas dari segala kepenatan itu. Namun, adalah kepastian bahwa kita terlahir di dunia dibekali dengan emosi (perasaan). Kita tak bisa bersembunyi menghindarinya. Di saat seperti inilah betapa setiap kerinduan membuncah kepada Dia yang selalu memberi ketentraman.
Terpuruk ku di sini/ Teraniaya sepi/ Dan ku tahu pasti/ Kau menemani/ Dalam hidupku/ Kesendirianku.
Dalam keterpurukan kita mengarungi kehidupan, dimana sebagian besar manusia memilih menghalalkan segala cara demi memperturutkan nafsunya, kesepian-lah yang kita tempuh karena memilih berjalan sesuai aturan-Nya. Namun yakinlah, selama kita berada dalam jalan-Nya, Dia selalu menemani kita di setiap kita melangkah.

Teringat ku teringat/ Pada janjimu ku terikat/ Hanya sekejap ku berdiri/ Kulakukan sepenuh hati/ Peduli ku peduli/ Siang dan malam yang berganti/ Sedihku ini tak ada arti/ Jika kaulah sandaran hati/ Kaulah sandaran hati/ Sandaran hati

Pada zaman azali, Tuhan meminta persaksian diri “alastu birabbikum (bukankah Aku ini Tuhanmu)?” kita bersama semua manusia serentak menjawab “iya.”  Bukankah itu berarti kita sudah terikat perjanjian dengan Tuhan? Berjanji untuk mengakui Dia sebagai satu-satunya tujuan, sebagai satu-satunya yang berkuasa. Dunia sekedar jalan yang kita tempuh, yang meski sebentar harus tetap kita lalui dan lampaui dengan sungguh-sungguh. Apalah artinya penderitaan jika hati telah bersandar hanya kepada-Nya yang akan menebus setiap sedih dengan segala kasih.

Inikah yang kau mau/ Benarkah ini jalanmu/ Hanyalah engkau yang ku tuju/ Pegang erat tanganku/ Bimbing langkah kakiku/ Aku hilang arah/ Tanpa hadirmu/ Dalam gelapnya/ Malam hariku

Dalam lirik ini terdapat pembedaan antara mau (kehendak) dan jalan. Kehendak Allah, menurut Ibnu Arabi terbagi menjadi dua: amr tawqify, amr taklify. yang pertama adalah perintah (baca: kehendak) Allah yang telah dia tetapkan sejak zaman azali berkaitan dengan hukum alam yang kemudian dalam istilah arab kita sebut sunnatullah. contoh Allah membuat setiap makhluk itu berpasang-pasangan. ada baik ada buruk, ada iman ada kufur, ada aksi dan reaksi. Yang kedua adalah kehendak (perintah) Allah yang dibebankan kepada manusia melalui nabi-nabi-Nya. Kehendak Allah ini sering juga disebut dengan syari'at-Allah. Dan amr taklify inilah berkonsekuensi pahala dan dosa.
Dalam al-Qur'an terdapat ayat “walillahi yasjudu man fis-samawati wal-ardhi thaw'an wa karhan wa zhilaa-luhum bil-ghuduwwi wal-ashaal.” ini artinya semua ciptaan Tuhan bersujud kepada-Nya dengan ta'at ataupun terpaksa. Jadi walaupun orang kafir menentang Allah dan tidak mau tunduk dalam syari'at-Nya, sebenarnya dia tunduk patuh kepada perintah Allah yang pertama (amr tawqify). Sebagai orang yang mengaku beriman, kita harus tawakkal berserah dan memasrahkan diri menuju pada jalan Allah yang kedua (hanyalah engkau yang ku tuju). Pasrah pada syari'at-Nya. Bukan sekedar pasrah pada hukum alam (amr tawqify)
Jika sudah demikian maka berkenanlah cinta Tuhan jatuh kepadanya seperti disebutkan dalam hadits qudsi, “fa-idzaa ahbabtuhu kuntu sam’ahu alladzi yasma’u bihi kuntu ‘ainahu allati yubshiru biha kuntu lisaanahu alladzi yanthiqu bihi kuntu rijlahu allati yabthisyu biha.” Ketika Aku sudah mencintainya, maka telinganya adalah telngakku, matanya mataku, lidahnya lidahku, kakinya kakiku.
Tanpa hadirnya Tuhan dalam jiwa, bagaimana bisa kita berada dan mengada? Apa yang tidak mengabarkan tentang Dia? Setiap gerak adalah energi dari pancaran quwwah-Nya. La haula wala quwwata illa billah. Maka absennya Tuhan dalam kehidupan diibaratkan gelapnya malam. Karena Dial ah yang menerangi setiap sudut langit dan bumi. Allahu nurus-samawati wal-ardhi...
Ketika engkau sudah pasrah total, maka kehendakmu sendiri lenyap, aku-mu hilang. semua menyatu dalam kehendak dan keakuannya. seperti daun yang hanyut di alir air, daun itu memang tampak bergerak tapi gerak sejati adalah gerak aliran air. daun tak mampu bergerak tanpa didorong oleh arus air. Maka tawakkal sejati adalah pasrah ber-Tawhid kepada-Nya.

Teringat ku teringat/ Pada janjimu ku terikat/ Hanya sekejap ku berdiri/ Kulakukan sepenuh hati/ Peduli ku peduli/ Siang dan malam yang berganti/ Sedihku ini tak ada arti/ Jika kaulah sandatan hati/ Kaulah sandaran hati/ Sandaran hati

Siapakah sandaran hati kita selama ini?


"ketika kau terus mencari tetapi tak kunjung ketemu. Kalau kau telah lelah berusaha namun berhasil nihil. jika kau senantiasa berdoa dan merasa tak pernah dikabulkan. Kau pun sudah tabah menahan derita berkepanjangan. Pasrahlah. seperti pasrahnya dawai yang dipetik, seperti seruling yang ditiup, seperti biola yang digesek, seperti drum yang digebuk. Lalu dengarlah betapa indah melodi yang Dia mainkan."


*tulisan yang pernah disampaikan dalam diskusi bersama remaja masjid at-Taqwa, Sekayu, Semarang Tengah.

Jumat, 30 November 2012

Simulasi Filosofis "Mempertanyakan Realitas"


“Informasi hanyalah data semata dan takkan pernah menjadi pengetahuan jika kau enggan mempertanyakannya.” [Diancuk Modarsono dalam cerpen Sashtra Jinendra Vijnana]

Di sini kita akan mencoba mempraktekkan kutipan di atas dengan mempertanyakan beberapa hal tentang kehidupan kita. Saya mulai dengan pertanyaan, Apakah keputusan-keputusan yang kita ambil selama ini murni pilihan kita? Apakah free will itu ada? Kalau kata Jean Paul Sartre, filosof Perancis, hell is other people. Kitalah yang mengendalikan semua keputusan kita. Tak peduli kita mengikuti perintah, saran dari orang lain atau meninggalkannya. Apakah yang terjadi sebenarnya memang begitu?
Coba kita simulasikan. Misalnya kita mau menentukan definisi, apa itu cantik dan tampan? Bagaimana menurut kebanyakan orang, cantik dan tampan itu? Berkulit putih, berambut hitam-lurus, berhidung mancung. Lalu apakah cantik dan tampan itu benar murni pendapat mereka, atau [meniru] hasil bentukan iklan-iklan?
Keputusan ini mempengaruhi barang yang kita konsumsi. Kalau cantik/ tampan adalah seperti yang didefinisikan itu, maka agar saya cantik/ tampan saya harus menggunakan kosmetik merk ini. Harus memakai shampoo ini, harus oprasi plastik untuk memancungkan hidung. Pernahkah kita bertanya siapa yang memproduksi barang-barang yang kita konsumsi setiap hari? Jadi siapa yang menentukan cantik dan tampan?
Kita maju lagi, oke kita mau pakai barang kosmetik, shampoo, dll. Di mana kita bisa mendapatkannya? Apa yang membuat kita memilih tempat belanja? Kenapa kita lebih memilih mall, swalayan daripada pasar atau sebaliknya? Sekali lagi apakah pilihan kita ini murni pendapat kita atau kita terbujuk trend?
Kita coba lebih sedikit serius. Tentang pemilu, misalnya pemilihan gubernur dan wakil gubenur jakarta beberapa waktu yang lalu. Kenapa Jokowi bisa menang mengalahkan Foke? Apa yang membuat rakyat jakarta lebih memilih Jokowi ketimbang Foke? Apakah itu murni karena rakyat tahu bahwa jokowi itu lebih layak jadi pemimpin mereka atau jangan-jangan karena bosan kepada kumis birokrasi saja? Akhirnya rakyat lebih simpatik kepada Jokowi yang datang dengan tampang yang tampaknya berbeda?
Kalau kita naikkan lagi, kita bisa mempertanyakan juga, kenapa kita memilih agama Islam sebagai agama kita? Apa karena kita ini benar-benar memilihnya atau karena memang kita dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan Islam sehingga kita mau tidak mau harus beragama Islam? Apakah anda bisa menjamin anda akan beragama Islam seandainya anda dilahirkan dan dididik dalam lingkungan non-muslim.
Lalu kalau islam kita gara-gara keturunan, sahkah Islam kita? Padahal termasuk rukun islam itu harus syahadat? Apakah kita benar-benar sudah menyaksikan kebenaran Islam atau asal manut saja? Saya tidak tahu apa yang terjadi dalam konteks kehidupan anda. Anda sendiri yang bisa menjawabnya dan mempelajarinya kembali. Saya hanya membantu membuat anda gelisah.
Boleh tidak mempertanyakan keimanan sendiri? menjadi murtadkah kita? Lho emangnya kita sudah mu’min/ beriman, lha wong pertanyaan tadi belum bisa kita jawab? Sekalipun kita sudah beriman, kita tetap harus mempertanyakan kembali iman kita. Nabi bersabda “jaddiduu imanakum” (al-hadits). Selalu perbaharui iman kalian. Bukankah syarat untuk memperbaharui itu menganggap yang lama tidak berlaku? Contohnya dalam teori sains. Dahulu kala orang beranggapan bumi itu datar. Kemudian anggapan dimentahkan oleh teori bahwa bumi itu bulat. Karena ketika seorang penjelajah berjalan lurus terus akan kembali ke tempat semula. Lalu muncul lagi teori geosentris bahwa seluruh benda langit itu mengitari bumi didasari oleh penafsiran dari injil. Ternyata itu pun disalahkan lagi karena menurut teori heliosentris sebenarnya bumi lah yang mengitari matahari. Adapun matahari yang terbit bergerak dari timur dan tenggelam ke barat, adalah gerak semu matahari. Bukan matahari yang bergerak tapi karena bumi yang berputar pada porosnya.
Semakin dewasa, seharusnya semakin menambah pemahaman baru dan semakin mengerti bahwa apa yang selama iini diyakini benar adalah sementara. Kalau mau radikal seperti kata Nietzsche “kebenaran adalah semacam kekeliruan yang harus ada.” Begitu juga seyogyanya kita dalam beragama. Kita harus tinggalkan semua kepercayaan lama kita. Berhijrah menuju iman yang baru. Dan harus selalu begitu. Nah masalahnya adalah banyak di antara kita berhenti untuk selalu mempertanyakan. Kemudian dia merasa apa yang dia percayai itu adalah satu-satunya yang benar. Maka yang lain adalah salah dan sesat sehingga harus diluruskan.
Saya ajukan pertanyaan lagi, Islam itu tujuan atau jalan? Islam adalah jalan dan satu-satunya tujuan hanyalah Allah. Kalau begitu kita tidak boleh menyalahkan orang yang menempuh jalan yang berbeda dengan kita. Karena toh kita juga belum tentu sampai kepada tujuan. Hati saya terkadang miris melihat orang-orang yang dengan yakin-seyakin-yakinnya menganggap dirinya yang paling benar dan atas nama Tuhan meng-kafir-kafirkan, bahkan melakukan tindakan anarki kepada orang lain. Apakah orang yang mengkafir-kafirkan itu benar-benar murni patuh pada perintah Tuhan atau merasa terancam kehilangan identitasnya? Kalau saya sih tidak masalah dituduh kafir, memang saya masih kafir (ingat kita belum jawab pertanyaan tentang islam keturunan).

“jangan-jangan kita ini terlalu takut untuk tegak berdiri sehingga perlu motivasi-motivasi.
jangan-jangan kita ini tidak percaya diri sehingga butuh kosmetik-kosmetik untuk mempercantik diri.
orang-orang berebut ingin diakui sedangkan mereka sendiri kehilangan jati diri.
mereka memuja kebebasan, sehingga mereka terseret derasnya arus kehancuran.
apa masih disebut bebas jika pilihannya sudah ditentukan?
[si]apa yang mengendalikan saat kita membuat keputusan?
kesadarankah, akal pikirankah, hatikah, perasaankah, terpaksakah?
jangan-jangan kita telah didekte iklan-iklan?
lalu dimana kita “letakkan” Tuhan?”


#tulisan yang disampaikan dalam diskusi bersama remaja masjid at-Taqwa, Sekayu, Semarang Tengah.